Prabowo Gagas Gentengisasi, Tantangan Berat di Timur Indonesia

- Selasa, 03 Februari 2026 | 13:12 WIB
Prabowo Gagas Gentengisasi, Tantangan Berat di Timur Indonesia

Presiden Prabowo Subianto punya gagasan. Ia ingin atap rumah di Indonesia tampak lebih indah, caranya dengan menggunakan genteng tanah. Gagasan ini ia sampaikan karena prihatin melihat masih banyak rumah, terutama di daerah, yang memakai atap seng. Menurutnya, seng itu punya banyak kekurangan. Selain cepat berkarat, material ini juga kurang ramah lingkungan.

“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan, “Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh.”

Pernyataan itu disampaikan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2).

“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjutnya tegas.

Lalu, bagaimana kondisi riil di lapangan? Sudah berapa banyak rumah tangga di Indonesia yang sebenarnya memakai genteng?

Mayoritas Sudah Pakai Genteng, Tapi...

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 punya jawabannya. Ternyata, 57,93 persen atau sekitar 40,9 juta rumah tangga di Indonesia sudah menggunakan genteng. Angka ini menunjukkan genteng memang sudah jadi pilihan utama masyarakat.

Namun begitu, persebarannya belum merata. Masih ada 31,48 persen rumah tangga atau sekitar 22,2 juta yang bertahan dengan atap seng. Bahan ini populer karena ringan, harganya murah, dan dianggap cukup awet. Tapi kelemahannya jelas: bising saat hujan dan membuat ruangan di bawahnya terasa panas menyengat.

Selain seng, ada pula atap asbes yang dipakai sekitar 7,85 persen rumah tangga. Material campuran semen dan serat ini memang tahan api dan mudah dipasang. Tapi di balik itu, tersimpan risiko kesehatan yang serius jika serat halusnya terhirup.

Lain lagi dengan atap beton. Penggunanya hanya sekitar 1,63 persen. Meski terkenal super kuat dan bisa bertahan puluhan tahun, tampaknya harganya yang mahal jadi kendala. Sementara itu, bahan-bahan tradisional seperti bambu, kayu, jerami, atau rumbia masih digunakan oleh sedikit di bawah 1 persen rumah tangga.

Genteng Lebih Dominan di Kota

Kalau dilihat dari wilayah, ada perbedaan yang menarik antara kota dan desa. Di perkotaan, penggunaan genteng mencapai 62,2 persen, sementara seng hanya 24,4 persen. Di perdesaan, meski genteng masih memimpin dengan 52,5 persen, penggunaan seng ternyata lebih tinggi persentasenya dibanding di kota.

Peta Penggunaan Atap di Indonesia

Peta penggunaan atap di Indonesia menunjukkan ketimpangan yang cukup jelas. Data BPS 2022 yang masih merujuk pada 34 provinsi menunjukkan genteng tanah masih sangat terpusat di Jawa dan sebagian Sumatera.

Yogyakarta jadi yang tertinggi, di mana 95,03 persen rumah tangganya memakai genteng. Jawa Timur menyusul dengan 93,58 persen, lalu Lampung 87,10 persen.

Di sisi lain, seng justru mendominasi wilayah Indonesia bagian timur. Gorontalo memimpin dengan persentase mencengangkan, 97,3 persen rumah tangganya pakai seng. Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat juga tak jauh beda, masing-masing di angka 96,23 persen dan 95,97 persen.

Perbedaan ini menggambarkan bahwa “proyek gentengisasi” yang digagas Presiden punya tantangan geografis dan kultural yang tidak kecil. Faktor ketersediaan material, biaya distribusi, dan kebiasaan lokal tampaknya masih menjadi penghalang besar untuk mewujudkan atap genteng seragam di seluruh Nusantara.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar