Saham Grup Barito Kompak Melesat, BRPT Tembus ARA Usai Laba Melonjak 803 Persen

- Selasa, 05 Mei 2026 | 16:50 WIB
Saham Grup Barito Kompak Melesat, BRPT Tembus ARA Usai Laba Melonjak 803 Persen

Saham-saham emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu kompak melesat pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Pergerakan ini dipimpin oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menyentuh batas auto reject atas (ARA) sebesar 25 persen, didorong sentimen positif dari lonjakan kinerja keuangan dan ekspansi bisnis yang agresif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham BRPT melonjak 24,66 persen ke level Rp2.300 per unit. Nilai transaksi saham ini tercatat jumbo, mencapai Rp1,29 triliun. Di bawah BRPT, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 19,70 persen, menyentuh batas ARA 20 persen ke posisi Rp6.075 per unit.

Sementara itu, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) terbang 16,26 persen ke Rp5.900 per unit. Emiten lain dalam grup ini juga mencatatkan penguatan, di antaranya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang naik 13,33 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar 12,07 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menguat 2,83 persen.

Kinerja solid dari sejumlah emiten Grup Barito menjadi katalis utama di balik reli harga saham tersebut. Kombinasi antara lonjakan laba, ekspansi bisnis, serta perbaikan kondisi operasional di berbagai lini usaha menjadi fondasi penguatan ini. BRPT menjadi motor utama dengan mencatatkan lonjakan EBITDA sebesar 288 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi USD567 juta pada kuartal I-2026, sekaligus menjadi rekor tertinggi kuartalan.

Dalam siaran pers perusahaan, kinerja gemilang ini ditopang oleh margin kilang yang kuat di Singapura, didukung oleh crack spread yang tinggi dan efisiensi operasional. Kondisi ini mampu menahan tekanan yang muncul di segmen petrokimia. Laba sebelum pajak BRPT pun melonjak 803 persen YoY menjadi USD271 juta, sementara neraca keuangan tetap solid dengan rasio net debt-to-equity di level 0,77x.

Ekspansi bisnis terus berlanjut melalui akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura serta penguatan bisnis energi. Di lini energi terbarukan, kapasitas panas bumi yang dikelola BREN kini mendorong portofolio perusahaan menembus angka di atas 1 GW. BREN sendiri mencatat pertumbuhan stabil dengan pendapatan naik 9,8 persen YoY menjadi USD165 juta dan EBITDA meningkat menjadi USD145 juta.

Margin yang tinggi di level 87,6 persen serta laba bersih yang tumbuh 24 persen mencerminkan efisiensi yang terjaga. Kinerja ini didukung oleh produksi panas bumi yang stabil dan kontribusi dari segmen energi angin. Fundamental keuangan BREN juga tetap kuat dengan total aset mencapai USD3,94 miliar.

Di sisi lain, CDIA menunjukkan ketahanan bisnis dengan mencatatkan adjusted EBITDA sebesar USD14,1 juta dan laba bersih USD9,5 juta, ditopang oleh likuiditas yang kuat. Permintaan logistik yang stabil dan ekspansi armada, termasuk penambahan kapal kimia, memperkuat prospek pertumbuhan perusahaan ini.

Dari sektor energi, CUAN membukukan lonjakan laba bersih 234 persen YoY menjadi USD5,70 juta, seiring pendapatan yang tumbuh 73,57 persen menjadi USD371,33 juta. Laba bruto perusahaan ini juga melonjak lebih dari dua kali lipat. Sementara itu, di sektor petrokimia, TPIA mencatat pembalikan kinerja yang signifikan. Laba bersih perusahaan mencapai USD146,13 juta pada kuartal I-2026, berbalik dari posisi rugi USD31,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini ditopang oleh pendapatan yang melesat 284,4 persen YoY menjadi USD2,40 miliar, dari sebelumnya USD662,09 juta. Angka ini mencerminkan pemulihan kuat di tengah perbaikan permintaan dan harga. Sentimen positif juga diperkuat oleh pemulihan operasional TPIA yang resmi mengakhiri status force majeure pasokan polymer dan monomer.

Normalisasi pasokan ini dicapai setelah perseroan mengamankan pasokan alternatif global, meskipun dengan biaya dan waktu pengiriman yang lebih tinggi, termasuk dari Amerika Serikat. Ke depan, optimalisasi produksi ethylene untuk kebutuhan internal serta dukungan fasilitas di Singapura diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan dan mempercepat respons terhadap permintaan pasar domestik.

Terakhir, PTRO juga mencatatkan kinerja kuat pada kuartal I-2026. Pendapatan perusahaan mencapai USD284,13 juta, naik 84,24 persen dibandingkan USD154,22 juta pada kuartal I-2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD1,39 juta, tumbuh 50,54 persen secara tahunan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar