Gus Murtadho Soroti Dukungan PBNU ke Prabowo di 'Board of Peace' Trump: Dinilai Pro-Zionis
Suara kritis kembali muncul dari kalangan Nahdlatul Ulama. Kali ini, datang dari aktivis NU Roy Murtadho, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Murtadho. Ia melayangkan kritik tajamnya kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, atau Gus Yahya. Persoalannya? Sikap dukungan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang memutuskan bergabung dengan Board of Peace, sebuah inisiatif yang dikaitkan dengan mantan Presiden AS, Donald Trump.
Bagi Gus Murtadho, dukungan itu bukan sekadar sikap politik biasa. Ia melihatnya sebagai sebuah cermin. Menurutnya, langkah itu menunjukkan di mana keberpihakan PBNU saat ini lebih condong kepada kepentingan oligarki global dan apa yang ia sebut sebagai kekuatan imperialisme Barat.
“Sikap mendukung Prabowo bergabung dengan Board of Peace bentukan Trump menunjukkan keberpihakan pada agenda oligarki, imperialisme, bahkan penjajahan zionis Israel,”
Demikian penegasan Gus Murtadho dalam pernyataannya yang dirilis pada Sabtu, 31 Januari 2026 lalu. Suasana kritiknya terasa begitu kuat dan penuh keyakinan.
Ia lantas membeberkan alasan di balik tuduhan itu. Board of Peace, dalam pandangannya, tak bisa dipisahkan dari rekam jejak politik luar negeri Amerika di era Donald Trump. Sebuah era di mana dukungan terbuka kepada Israel, termasuk dalam konflik panjang dengan Palestina, begitu kentara. “Trump adalah simbol dukungan Amerika terhadap zionisme Israel,” ujarnya.
“Ketika PBNU mendukung langkah politik yang berada dalam orbit tersebut, maka secara ideologis itu bertentangan dengan sejarah dan sikap NU yang sejak awal membela kemerdekaan Palestina,”
Tekannya lagi. Poin ini rupanya yang paling menyakitkan baginya, mengingat sejarah panjang NU dalam membela Palestina.
Namun begitu, kritiknya tak berhenti di situ. Gus Murtadho juga menyoroti arah organisasi yang dinilainya semakin melenceng. Ia merasa PBNU kini lebih asyik berdekatan dengan kekuasaan dan kepentingan-kepentingan global yang besar. Sementara, suara warga nahdliyin di akar rumput seolah terabaikan.
“PBNU hari ini lebih dekat dengan kekuasaan dan kepentingan global ketimbang suara umat. Ini berbahaya bagi marwah NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah,”
Kata-katanya tegas, menyiratkan kekhawatiran yang mendalam tentang masa depan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.
Meski kritiknya keras, Gus Murtadho memberi catatan penting. Ia menegaskan bahwa sorotan ini bukan ditujukan kepada pribadi Prabowo Subianto. Bukan itu masalahnya. Yang jadi persoalan adalah arah kebijakan serta legitimasi moral yang diberikan oleh PBNU terhadap langkah politik tersebut.
“Soal Prabowo adalah ranah politik negara. Tapi ketika PBNU ikut memberi pembenaran moral terhadap agenda global yang bermasalah, di situlah kami wajib bersuara,”
Penjelasannya singkat, tapi punya bobot yang jelas. Ia memisahkan antara ranah politik praktis dan tanggung jawab moral sebuah organisasi keagamaan.
Hingga saat ini, suasana di kantor PBNU masih sepi terkait tanggapan. Belum ada pernyataan resmi yang dikeluarkan untuk menjawab atau menanggapi kritik pedas dari Gus Murtadho tersebut. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu