Jalan buntu. Itulah yang kini dihadapi Presiden AS setelah usahanya menggalang armada perang internasional untuk Selat Hormuz ditolak mentah-mentah oleh sekutu-sekutunya sendiri. Bahkan negara-negara Eropa, yang biasanya cukup solid, kali ini terang-terangan mengatakan tidak. Prancis jadi yang pertama, lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri pada Minggu (15/3/2026), yang menyatakan keengganannya untuk ikut dalam eskalasi militer.
Tak mau ketinggalan, Jerman menyusul sehari kemudian. Pemerintah Jerman dengan tegas menyatakan misi di selat strategis itu bukan misi NATO, dan mereka lebih memilih jalan diplomasi.
Kanselir Friedrich Merz pun angkat bicara, dengan nada yang cukup gamblang.
"NATO adalah aliansi pertahanan, bukan aliansi intervensi. Kita punya tujuan yang sama: mengakhiri rezim Iran dan menggantinya dengan pemerintahan yang demokratis. Tapi dari pengalaman kita selama ini, membom mereka sampai tunduk jelas bukan cara yang tepat," ujarnya.
Di sisi lain, Inggris dan Uni Eropa justru memusatkan perhatian pada upaya meredakan ketegangan. Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer dengan cepat meluruskan bahwa pengamanan Selat Hormuz tidak pernah direncanakan sebagai operasi NATO.
"Kami sedang menyusun rencana kredibel untuk membuka kembali pelayaran di selat itu. Izinkan saya perjelas, ini bukan dan tak pernah direncanakan sebagai misi NATO. Ini harus jadi aliansi mitra, makanya kami bekerja sama dengan mitra di Eropa, Teluk, dan tentu saja AS," tutur Starmer.
Pernyataan serupa datang dari Wakil Presiden Komisi Eropa, Kaja Kallas. Ia menegaskan Eropa tak punya minat memperluas misi angkatan lautnya ke wilayah tersebut.
"Iran sedang berperang melawan ekonomi global. Fokus kami adalah de-eskalasi dan kebebasan navigasi. Eropa tidak punya kepentingan dalam perang yang berlarut-larut," tegas Kallas.
Penolakan ternyata tak cuma datang dari Eropa. Dari Asia, Jepang lewat Perdana Menteri Sanae Takaichi juga menegaskan tidak akan mengirim kapal perang. Mereka justru sedang menimbang langkah-langkah mandiri di luar kerangka militer AS. Tiongkok dan Australia pun bersikap sama, menolak permintaan Washington.
Gelombang penolakan ini, menurut laporan, membuat Presiden Donald Trump frustrasi. Dari tujuh negara yang dimintai bantuan, mayoritas menolak dengan alasan klasik: ini bukan perang kami, dan kami tak mau terseret konflik yang lebih luas.
Respons Trump pun keras. Ia tak segan mengkritik terbuka dan bahkan mengancam masa depan kerja sama pertahanan, khususnya NATO. Ia memperingatkan bahwa penolakan ini akan berakibat buruk bagi aliansi, dan menuntut balas budi atas perlindungan AS selama ini. Inggris, yang diharapkannya terlibat, justru jadi sasaran kekecewaannya.
"Saya sangat kesal lebih dari kesal saya tidak senang dengan Inggris. Mereka harusnya terlibat dengan antusias. Selama bertahun-tahun kamilah yang melindungi mereka melalui NATO. Bisa tanya pada Putin. Dia takut pada Amerika, pada militer yang saya bangun. Bukan pada Eropa," ucap Trump dengan nada tinggi.
Lalu, apa yang mendasari penolakan massal ini? Ternyata, tekanan publik di Eropa luar biasa besar. Demonstrasi terjadi di lebih dari 150 kota, termasuk London, Paris, dan Berlin. Warga menuntut pemerintahnya tidak ikut campur dalam perang AS dan Israel melawan Iran. Kekhawatiran akan melonjaknya harga energi dan risiko serangan balasan di tanah air mereka terasa sangat nyata.
Ada faktor lain yang mungkin kurang terlihat. Pakar geopolitik Raymond Sihombing punya analisis menarik. Menurutnya, negara-negara Eropa kaget dengan kekuatan militer Iran yang ternyata sangat tangguh. Selain itu, mereka sendiri sedang kehabisan napas.
"Mereka tak ingin terlibat langsung dengan Iran. Faktanya, setelah dua pekan serangan AS dan Israel, kemampuan Iran membalas ternyata di luar perkiraan. Lalu, ambil contoh Inggris, Italia, atau Prancis. Mereka sudah kecapekan mengirim bantuan senjata dan dana ke Ukraina. Sekarang mereka sendiri mengalami keterbatasan, bahkan defisit amunisi," jelas Raymond.
Kini, Amerika Serikat tampaknya terjepit. Mencari mitra koalisi militer untuk perang Iran ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan. Opsi yang tersisa mungkin membujuk negara-negara Teluk. Tapi itu pun tampaknya sulit. Kesadaran mulai tumbuh di kawasan itu: terjun langsung berperang melawan Iran hanya akan merugikan kepentingan nasional mereka sendiri dan membawa instabilitas yang tak berujung.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi