PLN EPI: Limbah Cair Sawit Berpotensi Tekan Emisi Metana 20 Juta Ton per Tahun

- Selasa, 16 Juni 2026 | 14:30 WIB
PLN EPI: Limbah Cair Sawit Berpotensi Tekan Emisi Metana 20 Juta Ton per Tahun

Pengembangan gas biomethane dari limbah cair kelapa sawit dinilai menjadi salah satu solusi paling efektif untuk menekan emisi metana sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas alam cair. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyebutkan bahwa potensi besar limbah sawit yang selama ini terbuang dapat diubah menjadi sumber energi rendah karbon yang bernilai ekonomi tinggi.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertajuk Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi Metana untuk Sektor Industri di Indonesia, pekan lalu, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit. Limbah cair yang dihasilkan mencapai sekitar 130 juta meter kubik per tahun, namun sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi domestik.

"Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," kata Hokkop dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

Di sisi lain, limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi salah satu penyumbang emisi metana yang signifikan. PLN EPI memperkirakan emisi dari limbah sawit mencapai sekitar 20 juta ton CO2e per tahun. Hokkop menegaskan bahwa hampir 90 persen dari emisi tersebut sebenarnya dapat diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru.

"Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," ujarnya.

Pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga mendukung target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44–48 persen pada 2030 serta pencapaian Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Untuk mempercepat pengembangan industri biomethane, PLN EPI membangun ekosistem CBG terintegrasi mulai dari pengamanan pasokan bahan baku, pengembangan fasilitas produksi, hingga penciptaan pasar.

Dalam model tersebut, PLN EPI berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, hingga pembangkit listrik. "Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," ungkap Hokkop.

Salah satu implementasi yang tengah dipersiapkan adalah proyek cofiring CBG di PLTGU Belawan. Untuk satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW) dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG yang berasal dari pemanfaatan sekitar 330.000 meter kubik POME per tahun atau setara satu fasilitas CBG. Sementara untuk memenuhi kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan, diperlukan sekitar empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar USD20 juta. Implementasi tersebut diperkirakan mampu menghindari emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e.

PLN EPI juga menghitung potensi pengembangan CBG secara nasional sangat besar. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas sebesar 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan CBG untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai sekitar 60.000 MMBTUD dengan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit. Potensi pengurangan emisinya dapat mencapai sekitar 14 juta ton CO2e.

Selain manfaat lingkungan, pengembangan CBG juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang signifikan. Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun dan mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.

PLN EPI menargetkan pengembangan bisnis CBG secara bertahap hingga 2030. Dalam roadmap perusahaan, kapasitas produksi CBG ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030. Pada periode yang sama, disertai pembangunan tiga fasilitas CBG untuk memasok kebutuhan pembangkit dan mendukung program dedieselisasi nasional.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar