Ketika Kekuasaan Menguji Kesederhanaan

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 11:20 WIB
Ketika Kekuasaan Menguji Kesederhanaan

Kekuasaan kerap menjadi ujian terbesar bagi para tokoh, ulama, dan aktivis. Tidak sedikit yang berubah gaya hidupnya setelah memperoleh jabatan. Kesederhanaan yang dulu menjadi ciri perjuangan perlahan memudar, digantikan kemewahan dan fasilitas berlimpah.

Afghanistan di bawah Taliban sering disebut sebagai contoh kontras. Banyak pemimpin dan pejabatnya tetap hidup sederhana, sebagaimana sebelum memegang kekuasaan. Mereka berasal dari kalangan ulama dan fuqaha. Sebelum maupun sesudah menjabat, kehidupan mereka relatif tidak berubah: tetap sederhana, bersahaja, dan hidup seperti rakyat kebanyakan. Makanan mereka sederhana, minuman mereka air putih, dan mereka tidak canggung duduk di atas batu atau langsung di tanah bersama masyarakat.

Seorang pemimpin yang gagal menjaga kesederhanaan sesungguhnya gagal menjaga ruh perjuangannya. Tujuan awalnya mungkin memperjuangkan agama dan rakyat. Namun, setelah memperoleh jabatan, yang diperjuangkan justru kepentingan pribadi. Pola hidup berubah drastis: makanan semakin mewah, pakaian semakin mahal, kendaraan berganti, rumah membesar, bahkan gaya hidup keluarga ikut berubah.

Inilah salah satu sebab mengapa sebagian umat kurang percaya kepada partai-partai yang mengatasnamakan Islam. Mereka berharap melihat teladan, tetapi yang tampak justru gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan. Akibatnya, muncul anggapan bahwa simbol-simbol Islam hanya digunakan untuk meraih simpati politik, bukan untuk diwujudkan dalam kehidupan.

Padahal, kekuatan dakwah tidak hanya terletak pada pidato dan slogan, tetapi juga pada keteladanan. Rakyat lebih mudah percaya kepada pemimpin yang hidup sederhana daripada kepada pemimpin yang pandai berbicara tetapi tenggelam dalam kemewahan.

Karena itu, sebelum berbicara tentang menegakkan Islam di tengah masyarakat, tegakkanlah terlebih dahulu Islam dalam diri sendiri. Sebab, perubahan besar selalu dimulai dari keteladanan, bukan sekadar dari kekuasaan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags