Dua Staf PBB Ditahan Intelijen Afghanistan, UNAMA Desak Akses Temui Mereka

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:30 WIB
Dua Staf PBB Ditahan Intelijen Afghanistan, UNAMA Desak Akses Temui Mereka

Dua staf misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Afghanistan ditahan oleh badan intelijen negara tersebut sejak Minggu (9/8). Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyatakan belum diizinkan bertemu dengan kedua stafnya itu selama dua hari terakhir.

Dalam pernyataan kepada AFP, Rabu (12/8), UNAMA mengonfirmasi kedua staf laki-laki warga Afghanistan itu ditahan oleh pejabat Direktorat Jenderal Intelijen (GDI) di Herat, Afghanistan bagian barat. "Kami mengonfirmasi bahwa dua staf laki-laki UNAMA asal Afghanistan ditahan oleh pejabat de facto Direktorat Jenderal Intelijen pada Minggu, 9 Agustus, di Herat," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Hingga saat ini, UNAMA belum mendapat informasi mengenai tuduhan yang dikenakan terhadap kedua stafnya. Mereka juga belum diizinkan untuk melakukan kunjungan. "UNAMA belum diberi tahu mengenai tuduhan terhadap mereka, dan kami juga belum diizinkan untuk menemui mereka," lanjut pernyataan itu.

Pemerintah Afghanistan belum memberikan tanggapan ketika dimintai konfirmasi oleh AFP. Sementara itu, UNAMA mendesak otoritas Afghanistan untuk memastikan aturan mengenai hak istimewa dan kekebalan PBB serta para pejabatnya tetap dipatuhi.

Laporan dan Rekomendasi UNAMA

Penahanan ini terjadi setelah UNAMA menerbitkan laporan pada pekan ini. Dalam laporan tersebut, misi PBB merekomendasikan agar otoritas Afghanistan memperjelas aturan mengenai penggunaan kekuatan, penangkapan, dan penahanan oleh institusi keamanan. UNAMA juga menyerukan penguatan mekanisme pertanggungjawaban di institusi-institusi tersebut.

Sejumlah badan PBB masih beroperasi di Afghanistan, menangani berbagai bidang termasuk kesehatan dan bantuan kemanusiaan. Namun, situasi di negara itu tetap rumit. Afghanistan telah berada di bawah pemerintahan Taliban selama hampir lima tahun, yang menerapkan interpretasi ketat terhadap hukum Islam. Perempuan Afghanistan juga dilarang memasuki sejumlah tempat, termasuk fasilitas PBB, dan larangan itu berlaku pula bagi perempuan yang bekerja sebagai staf PBB.

Sebelumnya, sekitar 20 pekerja bantuan kemanusiaan ditahan pada Juni di dekat perbatasan Afghanistan-Iran, tepatnya di Provinsi Herat. Mereka ditangkap polisi moralitas karena dianggap memiliki janggut yang tidak cukup panjang. Menurut memo internal yang dilihat AFP, para pekerja tersebut bekerja untuk organisasi yang menjadi mitra PBB dan kemudian dibebaskan.

Afghanistan sendiri masih menghadapi berbagai persoalan berat akibat pemangkasan bantuan internasional. Negara itu juga menghadapi tantangan besar terkait kedatangan jutaan warga Afghanistan dari Iran dan Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags