OJK: Mayoritas Indikator Aksesibilitas Pasar Modal Indonesia Kokoh, Dua Kriteria Masih Perlu Perbaikan

- Jumat, 19 Juni 2026 | 11:40 WIB
OJK: Mayoritas Indikator Aksesibilitas Pasar Modal Indonesia Kokoh, Dua Kriteria Masih Perlu Perbaikan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai hasil evaluasi terbaru dari MSCI Global Market Accessibility Review 2026 bukan sekadar laporan rutin, melainkan sebuah penegasan atas arah reformasi pasar modal yang tengah dijalankan bersama dengan Self-Regulatory Organization (SRO). Pengumuman yang dirilis pada Jumat, 19 Juni 2026, itu juga dimaknai sebagai masukan konstruktif untuk mempercepat pembenahan struktur transparansi, integritas, dan daya saing pasar saham domestik.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa dari sisi penilaian makro, mayoritas indikator aksesibilitas pasar Indonesia masih berada dalam posisi yang kokoh. Capaian ini disebutnya tidak jauh berbeda dengan rapor pada tahun sebelumnya, menunjukkan konsistensi dalam menjaga standar operasional.

"Hasil Market Accessibility Review MSCI yang diumumkan pagi ini menegaskan arah reformasi pasar modal Indonesia untuk terus memperkuat kualitas transparansi dan identifikasi coordinated trading dan daya saing pasar," ujar Hasan dalam keterangan resmi.

Arsitektur penilaian aksesibilitas MSCI, menurut Hasan, mencakup lima segmen besar yang dijabarkan ke dalam 18 kriteria pengukuran. Dari total indikator tersebut, performa Indonesia dinilai mayoritas telah memenuhi standar praktik terbaik atau best practice pasar modal internasional. Secara rinci, sebanyak 10 kriteria berhasil mempertahankan peringkat tertinggi dengan predikat “ ” (double plus), yang menandakan sektor tersebut bersih dari masalah operasional.

Sementara itu, enam kriteria lainnya mengantongi predikat “ ” (single plus), yang berarti performanya cukup baik namun tetap memerlukan pemeliharaan rutin. Sebaliknya, rapor merah berupa predikat “-” (negative) hanya disematkan pada dua lini, yaitu kriteria Foreign Exchange Market Liberalization Level serta kriteria Information Flow yang berada di bawah rumpun Market Infrastructure.

"Terkait aspek Information Flow di atas, kami memandang masukan tersebut sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang saat ini sedang dijalankan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, KSEI, KPEI, serta seluruh pelaku industri," kata Hasan.

Di samping membedah rapor Information Flow, Hasan mengapresiasi pengakuan tertulis MSCI atas sejumlah akselerasi perbaikan yang telah diupayakan Indonesia pada klaster liberalisasi pasar valuta asing. Meskipun secara output agregat pos tersebut masih membutuhkan langkah perbaikan lebih lanjut, pengakuan ini dinilai sebagai sinyal positif.

Untuk menindaklanjuti catatan di sektor moneter tersebut, OJK menegaskan tengah membangun jembatan koordinasi yang intensif dengan Bank Indonesia (BI). Langkah ini diperlukan agar kebijakan interkoneksi pasar modal dan valas ke depan dapat berjalan selaras dengan koridor makroprudensial nasional guna menangkal risiko volatilitas pasar.

Hasan menambahkan, dalam beberapa bulan terakhir, OJK bersama SRO telah menelurkan berbagai inisiatif taktis. Mulai dari peningkatan akurasi data kepemilikan saham, pengetatan keterbukaan informasi emiten, pengembangan sistem pelaporan pemilik manfaat akhir (beneficial ownership), penguatan kapasitas radar pengawasan (surveillance) perdagangan, hingga mitigasi transaksi terkoordinasi (coordinated trading).

"Berdasarkan feedback dari para pelaku pasar dan global index provider seperti MSCI dan FTSE, berbagai reformasi yang telah dilakukan saat ini telah memperoleh acknowledgement (pengakuan), dan sudah digunakan sebagai variabel dalam menentukan konstituen indeks atau kebijakan portofolio investasi," kata Hasan.

OJK optimistis langkah reformasi ini akan divalidasi secara positif oleh pasar. Mengacu pada skema berkala, para penyedia indeks global akan terus menyerap umpan balik dari para manajer investasi global, pialang saham, hingga pengelola hedge fund internasional untuk menguji efektivitas regulasi baru Indonesia. Demi memastikan seluruh arsitektur reformasi ini tersampaikan secara jernih, OJK berkomitmen untuk mengintensifkan dialog langsung bersama lembaga-lembaga rating dunia seperti MSCI dan FTSE Russell.

"Fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat serta sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi landasan penting untuk terus meningkatkan daya saing dan kredibilitas pasar modal Indonesia," kata Hasan.

Dengan demikian, OJK optimistis bahwa fundamental ekonomi makro yang solid akan menjadi jangkar utama bagi kredibilitas bursa domestik di mata dunia. "Kami memandang masukan MSCI sebagai bagian dari proses perbaikan yang konstruktif. Dengan konsistensi reformasi yang sedang berjalan, kami optimistis kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia akan terus menguat ke depan," pungkas Hasan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags