Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku pernah menyampaikan kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia bahwa dirinya adalah menteri paling tidak beruntung di dunia. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pertemuan April lalu, ketika berbagai tekanan ekonomi dan politik tengah menghadang.
Sejak awal menjabat, Purbaya mengaku harus menghadapi rentetan tantangan: demonstrasi besar, persoalan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), hingga keluarnya outlook negatif dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings dan Moody's. "Setelah semua itu berhasil kami perbaiki, kemudian datang perang Iran. Setelah itu, sepertinya mereka (lembaga pemeringkat) memang tidak menyukai saya," tuturnya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter telah dijalankan dengan baik di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5 persen merupakan hasil yang baik, kendati sebagian ekonom menilai kurang memuaskan.
Purbaya berjanji akan membuktikan bahwa penilaian tersebut tidak tepat dengan terus menjaga kinerja ekonomi nasional. "Namun, saya akan memastikan bahwa pada paruh kedua tahun ini, perekonomian kita dapat tumbuh mendekati sekitar 6 persen," ucapnya. Untuk mencapai target itu, ia akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang tersedia, baik fiskal maupun moneter, agar perekonomian domestik tumbuh sesuai potensinya.
Purbaya juga mengaku heran ketika Moody's dan Fitch sama-sama menerbitkan outlook negatif terhadap Indonesia. Menurutnya, pemerintah telah memberikan berbagai penjelasan mengenai fundamental ekonomi nasional yang dinilai tetap kuat. "Padahal, saya sudah jelasin macam-macam, bahwa kita bagus, segala macam. Rupanya mereka offside karena mereka keluarkan itu sebelum angka triwulan pertama keluar. Begitu angka triwulan pertama keluar 5,6, harusnya kelihatan betul mereka salah ukur ekonomi kita," jelasnya.
Di sisi lain, S&P Global Ratings tidak mengambil kesimpulan serupa. Purbaya menuturkan, lembaga tersebut melakukan pembahasan secara rinci dengan pemerintah mengenai arah kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta berbagai program yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto. "Akhirnya mereka bisa melihat memang kita bergerak ke arah yang betul," imbuhnya.
Artikel Terkait
Danantara dan Kemenkeu Bahas Restrukturisasi BUMN dan KCIC
Danantara dan Menkeu Bahas Restrukturisasi BUMN hingga Utang Whoosh
Menkeu Janjikan Insentif Tambahan untuk Toyota, Jaecoo J5 EV Mendekati 25 Ribu Unit
Curhat Menkeu hingga Instruksi Prabowo soal BBM, Berita Populer Hari Ini