IHSG Melesat 1,62%, OJK Anggap Sinyal Kembalinya Kepercayaan Investor

- Selasa, 03 Februari 2026 | 13:36 WIB
IHSG Melesat 1,62%, OJK Anggap Sinyal Kembalinya Kepercayaan Investor

IHSG melonjak lagi hari ini. Tepatnya di sesi pertama perdagangan Selasa (3/2), indeks saham gabungan itu naik 1,62 persen, menguat ke posisi 8.051 pada pukul 11.39 WIB. Kenaikan ini seperti angin segar setelah beberapa hari terakhir yang penuh gejolak.

Di Gedung BEI Jakarta, suasana tampak sedikit lebih cerah. Hasan Fawzi, Anggota Dewan Komisioner OJK yang juga menjabat sebagai Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, tampak optimis. Menurutnya, gerak naik IHSG ini bukan sekadar angka hijau di papan elektronik.

"Alhamdulillah hari ini mudah-mudahan berlanjut ya. Kita melihat sejauh ini sih tadi indeks masih hijau," ujar Hasan kepada para wartawan.

Ia meyakini, ini adalah tanda awal kembalinya kepercayaan investor. Sentimen positif itu, harapannya, bisa menjadi respons baik terhadap agenda reformasi besar yang sedang digodok regulator.

"Nah ini mudah-mudahan menunjukkan mulai lebih terkonfirmasi lagi kepercayaan dan kepastian di para investor kita terkait dengan rencana besar kita untuk mendorong dan mengedepankan reformasi integritas ini," katanya lagi.

Yang menarik, penguatannya terjadi secara merata. Bukan cuma didorong satu atau dua saham besar saja. "Sekarang sudah di 1,5 persen dan merata. Semua indeks sektoral, semua indeks utama IDX30, LQ45 itu semuanya juga hijau. Artinya mengalami kenaikan yang merata," jelas Hasan.

Data perdagangan dari RTI seolah mendukung optimisme itu. Volume transaksi tercatat lumayan tinggi, mencapai 35,93 miliar saham dengan nilai Rp 16,63 triliun. Frekuensinya pun aktif, 1,85 juta kali transaksi. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, 584 di antaranya menguat, sementara yang melemah hanya 160 saham. Sisanya, 72 saham, stagnan.

Lonjakan ini tentu disambut lega. Sebelumnya, OJK memang sedang getol menyiapkan respons setelah IHSG tertekan akibat kebijakan MSCI pekan lalu. Mereka merancang delapan rencana aksi reformasi untuk menenangkan pasar.

Rencananya cukup komprehensif. OJK akan mendongkrak likuiditas dengan menaikkan batas minimum kepemilikan publik atau free float menjadi 15 persen, tentu dengan masa transisi bagi emiten yang sudah listing. Mereka juga bakal memperketat transparansi, salah satunya lewat kewajiban mengungkap Ultimate Beneficial Ownership (UBO) agar siapa pemilik sebenarnya sebuah saham jadi lebih jelas.

Tak cuma itu, kualitas data kepemilikan saham akan ditingkatkan agar lebih rinci dan bisa diandalkan. Dari sisi tata kelola, wacana demutualisasi BEI digulirkan untuk meminimalkan konflik kepentingan. Penegakan aturan juga akan lebih keras, terutama untuk praktik manipulasi dan penyebaran informasi menyesatkan.

Soal tata kelola emiten, OJK akan mewajibkan pendidikan berkelanjutan bagi para direksi dan komisaris. Laporan keuangan juga harus dikerjakan oleh akuntan publik bersertifikasi. Mereka pun berencana mendalami pasar secara terintegrasi, dari hulu ke hilir, untuk meningkatkan efisiensi.

Yang terakhir, dan mungkin paling krusial, adalah soal kolaborasi. OJK bertekad memperkuat sinergi antar semua pemangku kepentingan, mulai dari regulator, pemerintah, hingga pelaku industri langsung. Tujuannya satu: memastikan reformasi ini benar-benar jalan, bukan sekadar wacana di atas kertas.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar