Ketika Presiden Mendengar Suara dari Luar Lingkaran Istana

- Selasa, 03 Februari 2026 | 12:40 WIB
Ketika Presiden Mendengar Suara dari Luar Lingkaran Istana

Pertemuan Presiden dan Suara-Suara yang Selama Ini Terdengar Samar

Oleh: Joko Handipaningrat (Konsultan kreatif)

Pertemuan di Kertanegara beberapa hari lalu, antara Presiden dan sejumlah tokoh yang dikenal kritis, lebih dari sekadar agenda rutin. Itu sebuah terobosan. Bagi saya, momen itu membuka kembali sebuah ruang dialog yang lama terasa sumbat.

Pertanyaan yang sering muncul: untuk apa Presiden mendengar masukan dari luar? Bukankah di sekelilingnya sudah penuh dengan staf ahli dan menteri?

Pengalaman saya menjawabnya begini: persoalannya jarang terletak pada kualitas orang-orang di dalam istana. Yang sering jadi masalah justru mekanisme penyampaiannya sendiri. Jangan dibayangkan orang-orang terdekat Presiden bisa dengan mudah "membisiki" beliau, apalagi kalau usulannya datang dari bawah.

Saya punya cerita yang mungkin bisa memberi gambaran. Kembali ke Maret 2012, saat Partai Demokrat sedang diterpa badai. Beberapa kadernya berurusan dengan KPK, bahkan sudah ada yang divonis. Ramai sekali media memprediksi suara partai itu akan anjlok di Pemilu 2014.

Sebagai nahkoda, Presiden SBY yang juga Ketum PD kala itu, tentu harus bertindak.

Nah, di tengah situasi itu, saya malah dapat undangan ke Cikeas. Agendanya? Mempresentasikan Grand Strategi Komunikasi untuk menyelamatkan Partai Demokrat. Saya sendiri agak kaget.

Dari obrolan dengan seorang menteri, saya dapat cerita. Rupanya, nama saya muncul karena performa di sidang-sidang Komisi X DPR dulu dipantau. "Mas Joko dianggap sosok yang tepat," katanya.

Waktu di DPR dulu, saya memang sering presentasi soal strategi branding Indonesia dan pariwisata. Sampai-sampai, Herry Achmadi yang waktu itu jadi Ketua Komisi X pernah berseloroh ke Menteri Pariwisata, "Harusnya Mas Joko yang duduk di kursi Anda, Pak… karena dia tahu strategi yang tepat."

Jadi, dengan ditemani anak bungsu, saya berdiri di hadapan Presiden SBY, Ibu Negara, AHY, Mas Ibas, lima menteri, Kasad, plus sebelas staf ahli. Saya jabarkan strategi rebranding partai itu selama satu setengah jam penuh.

Inti strateginya sederhana: persepsi publik terhadap PD sangat dipengaruhi kinerja pemerintah sebagai ruling party. Saat itu, setidaknya ada sembilan program pemerintah yang sebenarnya bagus seperti KUR, listrik, peremajaan alutsista TNI, pemberantasan korupsi tapi komunikasinya buruk. Rakyat hampir tak merasakannya.

Usai presentasi, ruangan hening sejenak. Presiden SBY melihat ke sekeliling, menarik napas, lalu tersenyum.

"Mas Joko, this is a fascinating presentation. I’d say it’s definitely 'out of the box'," ujarnya.

Keputusan pun diambil. Saya diberi tugas menangani strategi rebranding partai itu selama setahun.

Nah, di sinilah poin pentingnya. Pengalaman selama sembilan bulan bekerja itu membuktikan betapa sulitnya orang-orang di lingkaran dalam menyampaikan masukan tertentu langsung ke Presiden.

Contohnya, dalam eksekusi program media, kami rancang sebuah tayangan di mana Presiden harus tampil dengan seragam TNI, penuh wibawa, dan menyampaikan pesan kebanggaan tentang peremajaan alutsista. Naskahnya sudah siap.

Tapi saat ide itu dibawa ke tingkat staf ahli, mereka saling pandang. Beberapa berbisik. Lalu, Prof. Daniel Sparingga yang mewakili mereka bilang, "Mas Joko saja yang langsung sampaikan ke Presiden…"

Rupanya, ada semacam "tata krama" atau mungkin SOP tak tertulis yang membuat hal semacam itu tak mudah disampaikan. Akhirnya, saya sendiri yang membawakannya ke Cikeas. Dan untungnya, respons Presiden positif.

Beberapa hari kemudian, syuting pun berjalan. Dengan gagah dalam seragam Jenderal Marinir, Presiden SBY menyampaikan persis kalimat yang kami rancang.

Karena itulah, saya melihat pertemuan dengan tokoh seperti Said Didu, Abraham Samad, atau Siti Zuhro itu penting. Itu memecah kebuntuan. Memberi saluran baru bagi suara-suara yang mungkin selama ini teredam oleh mekanisme dan protokol yang kaku.

Oh ya, sebelum proyek itu dimulai, SBY sempat bertanya soal prediksi. "Kira-kira akan berapa persen suara yang kami peroleh nanti di 2014?"

Saya hitung sebentar. "Sekitar 11%, Pak," jawab saya.

Beliau berpikir sejenak. "Baiklah. Go ahead," katanya.

Dan hasil akhirnya? Partai Demokrat meraih 10,2%. Prediksi saya meleset hanya 0,8%. Seorang menteri kemudian bilang, beliau happy dengan angka itu. Alhamdulillah. (")


"Joko Santoso Handipaningrat adalah politikus senior, penulis, dan konsultan kreatif. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri PAN dan pencipta lambang Matahari Putih partai tersebut. Pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen PAN dan anggota DPR RI periode 2004–2009. Kini aktif sebagai penulis dan pemerhati kehidupan sosial-politik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar