Di ruang digital yang serba cepat ini, pengawasan orang tua bukan lagi sekadar saran, tapi sebuah keharusan. Ancaman di dunia maya itu nyata, mulai dari perundungan hingga kejahatan seksual online. Meski internet menawarkan segudang manfaat untuk belajar dan bermain, sisi gelapnya tak bisa kita anggap remeh.
Faktanya, hampir separuh pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak di bawah umur. Boni Pudjianto, Kepala BPSDM Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengungkapkan angkanya mencapai 48 persen, atau sekitar 110 juta jiwa. Jumlah yang sangat besar.
"Ranah digital itu tidak bersih seperti kertas putih," tegas Boni dalam acara Road to Tunas Community HUB Gembira Parenting di Tangerang Selatan, Kamis lalu.
Menurutnya, ada banyak kejahatan yang berdampak pada psikologis anak, bahkan kejahatan seksual berbasis online. "Ini nyata dan tugas kita bersama untuk menguranginya," imbuhnya.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya tak tinggal diam. Kemkominfo rutin memblokir konten-konten berbahaya seperti judi online, pornografi, dan pinjaman ilegal. Namun begitu, tantangan terbesar justru datang dari kejahatan yang sifatnya personal, seperti child grooming. Kejahatan semacam ini sulit dideteksi sistem karena berlangsung secara privat dan intens.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan KAI Tingkatkan Kenyamanan Kereta dan Stasiun
Kapolda Sumsel Perintahkan Kesiapan Penuh Jelang Puncak Arus Mudik Lebaran 2026
TelkomGroup Berangkatkan 1.924 Pemudik Gratis dengan Bus Ramah Lingkungan
ASDP Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran di Merak Dimulai Malam Ini