Suparman Marzuki Sebut Artidjo Alkostar, Busyro Muqoddas, dan Mahfud MD sebagai Prototipe Integritas

- Senin, 25 Mei 2026 | 11:00 WIB
Suparman Marzuki Sebut Artidjo Alkostar, Busyro Muqoddas, dan Mahfud MD sebagai Prototipe Integritas

Guru Besar Hukum Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Suparman Marzuki, mengungkapkan tiga figur utama yang menjadi sumber inspirasi dalam menjaga integritas selama menjalani karier dan kehidupan. Mereka adalah almarhum Artidjo Alkostar, Busyro Muqoddas, dan Mahfud MD. Ketiga nama itu disebut sebagai prototipe yang terus dipelajarinya, baik dari kejauhan maupun dalam interaksi langsung.

“Pak Mahfud ini, tanpa disadari, adalah salah satu mentor yang selalu saya potret dari kejauhan dan dari dekat. Pak Artidjo, Pak Busyro, Pak Mahfud di Fakultas Hukum, tiga figur itu adalah prototipe saya,” ujar Suparman dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di program Ruang Sahabat di kanal YouTube resmi Mahfud MD, Sabtu (23/5/2026). Pernyataan itu disampaikan sebagai respons terhadap pesan yang dituliskan Mahfud dalam buku ‘Di Balik Toga Sahabat’, yang diterbitkan saat pidato pengukuhan profesor Suparman di Auditorium Abdulkahar Muzakkir UII pada Selasa (19/5/2026). Dalam buku tersebut, Mahfud menitipkan almamater kepada Suparman.

Menariknya, ketiga sosok yang disebutkan Suparman berasal dari almamater yang sama, yaitu UII. Dari mantan hakim agung, mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, hingga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, Suparman mengaku memperoleh kekuatan yang saling melengkapi untuk memperteguh integritasnya. “Ketiga-tiganya punya kekuatan yang saling menyatu, dan itu yang selalu saya adopsi dalam perjalanan hidup saya. Tapi poinnya satu: integritas,” tegasnya.

Lebih lanjut, Suparman mengungkapkan bahwa pesan Mahfud baginya merupakan amanah besar. Secara formal, Mahfud menitipkan amanah tersebut dari posisinya sebagai Pembina Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII. Secara substansial, pesan itu datang dari seorang senior dan sesama alumni. “Itu beban yang harus saya ampu,” ucap mantan Ketua Komisi Yudisial periode 2013–2015 itu.

Di balik penerimaan amanah tersebut, tersimpan cerita panjang. Suparman mengaku sem berkali-kali menolak dan menghindar ketika diminta menjadi Ketua YBW UII. Namun, ketika ketiga figur itu yang meminta, ia merasa tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. “Kalau sudah orang-orang ini bicara, saya tidak bisa menghilang. Kalau sudah Pak Artidjo, Pak Busyro, beliau ini kalau sudah ketuk, saya sudah mati angin. Itu fatwa sudah. Buat saya, ini selesai. Ini mesti saya pegang amanah ini,” katanya.

Sementara itu, Mahfud MD menjelaskan bahwa integritas sejatinya telah diwariskan oleh para pendiri UII. Ia mencontohkan Mohammad Hatta yang setiap bulan rela naik kereta dari Jakarta ke Yogyakarta hanya untuk mengajar di kampus tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh Abdulkahar Muzakkir yang, meskipun telah menjadi pejabat penting di ibu kota, memilih kembali ke Yogyakarta untuk membesarkan UII. “Dia pulang ke Yogya hanya ingin merawat UII, dari Sekolah Tinggi Islam menjadi Universitas Islam Indonesia. Di tahun 70-an, Pak Kahar baru istirahat,” ujar Mahfud.

Integritas itu, menurut Mahfud, juga tercermin dalam gaya hidup sederhana para tokoh tersebut. Artidjo Alkostar, misalnya, meskipun dikenal sebagai hakim agung yang sangat ditakuti, tetap hidup bersahaja dan mudah ditemui mahasiswa. “Rasa hormat yang diberikan orang-orang kepada sosok seperti Artidjo bukan semata karena ilmu, tapi lebih karena integritas yang terus terjaga,” kata Mahfud. Ia menekankan bahwa dalam hukum, integritaslah yang dinilai pertama, baru kebenaran pasal. “Itu Artidjo, sampai meninggalnya orang tetap hormat, salut. Sampai pensiun, orang sedih semua. Karena apa? Integritasnya, bukan soal ilmunya,” pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar