Pemeriksaan CT scan kemudian membenarkan hal terburuk. Tampak lapisan gas nitrogen terperangkap di rongga perut, tepat di atas lambung dan di bawah paru-paru. Kondisi ini disebut pneumoperitoneum, bukti nyata bahwa lambungnya telah berlubang.
Penanganan darurat pun dilakukan. Dokter membuat sayatan kecil untuk melepaskan gas yang terperangkap. Lalu, dengan bantuan laparoskop, mereka menemukan lubang selebar 3 sentimeter di lambung. Lubang itu dijahit dan ditambal dengan jaringan lemak dari tubuh pasien sendiri.
Untungnya, pemulihannya berjalan lancar. Hanya dalam tiga hari, pria itu sudah bisa pulang dan mulai mengonsumsi makanan cair tanpa masalah.
Kasus ini sebenarnya memberi pelajaran penting. Nitrogen cair bukan cuma berisiko membuat lambung pecah, tapi juga bisa menyebabkan luka bakar dingin permanen jika tertelan sebelum menguap sempurna. Zat ini mampu membekukan air dalam sel dan merusak jaringan tubuh secara serius.
Namun begitu, pasien ini terhindar dari luka bakar semacam itu. Menurut dokter, fenomena fisika yang disebut Leidenfrost effect mungkin menjadi penyelamatnya. Saat nitrogen cair menyentuh jaringan tubuh yang jauh lebih panas, lapisan terluarnya langsung menguap dan membentuk selubung gas pelindung. Selubung inilah yang diduga mencegah kontak langsung dan kerusakan lebih parah pada kerongkongan dan lambungnya.
Di dunia kuliner, nitrogen cair sebenarnya bukan barang baru. Zat ini sering dipakai untuk membekukan makanan cepat saji atau menjaga kesegaran seafood. Tapi dalam praktik yang aman, nitrogen cair harus menguap seluruhnya sebelum makanan disajikan ke konsumen.
Masalahnya, tren menghidangkan minuman atau makanan dengan efek asap yang dramatis justru mengundang bahaya. Kadang, zat itu dicampur langsung dan dikonsumsi sebelum hilang. Praktik yang lebih aman sebenarnya hanya menggunakan nitrogen cair untuk menciptakan ilusi asap di "sekitar" hidangan, bukan di "dalamnya". Bagaimanapun, keamanan konsumen harus selalu diutamakan daripada sekadar efek visual yang memukau.
Artikel Terkait
Petrichor: Aroma Hujan yang Menenangkan Pikiran dan Mengembalikan Keseimbangan
Nyanyian Leluhur: Ritme Kuno Indri Madagaskar yang Menggemakan Musik Manusia
Uban Bisa Dibalik? Rahasianya Ternyata pada Sel yang Macet
Separuh Umat Manusia Terancam Terpanggang pada 2050