CBA Soroti Dugaan Pemborosan Rp 338 Miliar untuk Dukungan Teknis Oracle

- Selasa, 03 Februari 2026 | 21:25 WIB
CBA Soroti Dugaan Pemborosan Rp 338 Miliar untuk Dukungan Teknis Oracle

CBA Serukan Kejagung Usut Dugaan Pemborosan Rp 338 Miliar untuk Dukungan Teknis Oracle

Jakarta – Isu pengadaan pemerintah kembali menyita perhatian. Center for Budget Analysis (CBA) secara resmi mendesak Kejaksaan Agung untuk membuka penyelidikan. Objeknya adalah pengadaan Annual Technical Support (ATS) atau dukungan teknis tahunan untuk lisensi perangkat lunak Oracle pada sistem SAKTI di lingkungan Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu. Nilainya fantastis, dan menurut CBA, pengadaannya dilakukan berulang selama delapan tahun tanpa manfaat yang jelas.

Uchok Sky Khadafi, Direktur Eksekutif CBA, tak ragu menyebutnya sebagai pemborosan. “Perpanjangan ATS di Direktorat Jenderal Perbendaharaan ini hanya buang-buang duit negara saja. Tidak ada manfaat signifikan,” tegasnya pada Selasa (3/2/2026).

Argumennya sederhana tapi menusuk. Menurut Uchok, pemilik lisensi ATS yang berlokasi di luar negeri itu tak pernah sekalipun mengirimkan ahli untuk menangani masalah teknis SAKTI.

“Tidak pernah ada ahli dari luar negeri yang datang untuk memperbaiki atau memberikan dukungan teknis. Kalau ada masalah aplikasi, yang mengerjakan justru vendor pemenang aplikasi SAKTI, bukan pemilik Annual Technical Support yang ada di luar negeri,” ujarnya.

Nah, di sinilah letak persoalannya. Jika dukungan teknis nyatanya diberikan oleh pihak lain, untuk apa membayar mahal lisensi ATS setiap tahun? CBA menilai praktik ini semakin menguatkan kecurigaan bahwa pengeluaran negara itu tidak relevan dengan kebutuhan riil di lapangan.

Lebih mengerikan lagi ketika dihitung akumulasinya. Uchok mengungkap angka yang membuat kita menghela napas: totalnya mencapai Rp338,4 miliar yang terhitung sejak delapan tahun lalu. “Uang negara yang habis sangat besar,” lanjutnya. Baginya, angka sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan pijakan penyelidikan oleh aparat penegak hukum.

Di sisi lain, logika pengadaan yang diterapkan pun dipertanyakan. Secara prinsip, menurut CBA, seharusnya cukup membeli ATS satu kali saja, bukan diperpanjang terus-menerus seperti ritus tahunan. Pola pemenangnya pun dinilai janggal.

Uchok secara gamblang menyebut satu nama yang patut dicurigai. “Yang harus dicurigai dan dipanggil Kejagung adalah perusahaan pemenang Annual Technical Support Software License Oracle untuk SAKTI tiap tahun. Itu-itu saja, yakni PT Sisindokom Lintasbuana,” pungkasnya dengan nada tegas.

Hingga saat ini, tanggapan resmi dari Kementerian Keuangan, Ditjen Perbendaharaan, maupun PT Sisindokom Lintasbuana belum juga muncul. Desakan CBA kini menggantung, menunggu respons konkret dari Kejagung. Apakah ini akan menjadi kasus pemborosan baru yang terbongkar, ataukah hanya akan tenggelam dalam kesunyian birokrasi? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar