Kolaborasi antar BUMN di Indonesia semakin gencar, terutama untuk urusan menyediakan rumah layak bagi masyarakat yang masih berjuang secara ekonomi. Kali ini, Kementerian PUPR bersama Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) berupaya mewujudkannya.
Mereka punya program bernama HOME Syariah. Intinya, ini fasilitas pembiayaan ultra mikro yang khusus untuk renovasi rumah. Tapi bukan sembarang renovasi. Rumah yang dibenahi juga diharapkan bisa berfungsi ganda sebagai tempat usaha. Jadi, selain untuk berteduh dan berkumpul keluarga, hunian itu juga bisa menghasilkan uang.
Menurut Dodot Patria Ary, Sekretaris Perusahaan PNM, filosofi di balik program ini cukup sederhana namun menyentuh.
"Program ini kami hadirkan untuk membantu nasabah membangun rumah yang lebih layak dan produktif. Bagi banyak keluarga prasejahtera, rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat mencari penghidupan," jelasnya.
Dodot menambahkan, skema yang ditawarkan memang dirancang untuk mempermudah. "Melalui pembiayaan ultra mikro berbasis prinsip syariah, tanpa agunan, serta pendampingan berkelanjutan, kami ingin memastikan setiap nasabah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menguatkan usahanya dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya," ujarnya.
Nah, soal pendampingan, program ini terintegrasi dengan Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU). Jadi dapat duit, dapat juga ilmu mengelola bisnis. Skema pembiayaannya sendiri berjalan dengan tiga akad syariah: Murabahah, Wadiah, dan Wakalah. Singkatnya, Murabahah untuk jual-beli barang kebutuhan renovasi, Wadiah mengatur titipan dana, sementara Wakalah memberi kuasa pada nasabah untuk membeli barang-barang yang diperlukan.
Di lapangan, program ini sudah mulai mengubah cerita hidup beberapa orang. Seperti Marni, seorang nasabah PNM dari Kutawaluya, Karawang. Ia bergabung sejak 2018, dengan plafon pinjaman yang naik dari Rp 3 juta jadi Rp 8 juta sekarang.
Perjalanannya tidak mudah. Dulu, kehidupan keluarganya serba kekurangan.
"Dulu suami saya nggak punya kerja tetap, serabutan. Sembilan tahun lalu, buat makan sehari-hari aja rasanya kurang. Jangankan buat beli lauk, kadang sepotong ayam pun susah sekali," kenang Marni.
Ia berjualan keliling, panas-panasan membawa dagangan. Namun, setelah masuk program Mekaar dan kemudian mendapat akses HOME Syariah, perlahan keadaan berubah. "Saya bisa bangun warung kecil di rumah. Sekarang saya nggak perlu keliling lagi, jualan gorengan bisa dari rumah," ceritanya dengan nada lega.
Perubahan itu terasa nyata bagi keluarganya. "Alhamdulillah, saya bisa bantu suami, penghasilan lebih jelas, dan yang paling saya syukuri, anak-anak bisa tetap sekolah," tutur Marni.
Kisah seperti inilah yang ingin terus diduplikasi. Program HOME Syariah, pada akhirnya, bukan cuma soal membenahi fisik bangunan. Lebih dari itu, ia berusaha mengukir fondasi ekonomi yang lebih kokoh, dimulai dari dalam rumah.
Artikel Terkait
Pemerintah dan OJK Resmikan Program PINTAR Reksa Dana untuk Dorong Literasi Investasi Mahasiswa
Wall Street Tertekan: Nasdaq Anjlok 0,79% Dipicu Kekhawatiran Masa Depan AI dan OpenAI Gagal Capai Target
BEI Hapus 11 Waran Terstruktur KGI Sekuritas dari Perdagangan per 11 Mei 2026
Sucor Asset Management Gandeng Hana Bank sebagai Agen Penjual Empat Produk Reksa Dana