Rupiah menutup perdagangan Kamis (12/3/2026) dengan posisi sedikit melemah. Mata uang kita terdepresiasi tipis 7 poin, atau sekitar 0,04%, ke level Rp16.893 per dolar AS. Pelemahan ini memang tak signifikan, tapi cukup untuk mengingatkan kita pada sentimen eksternal yang masih bergejolak.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, lonjakan harga minyak jadi salah satu pemicunya. "Harga minyak melonjak tajam pada hari Kamis, sempat tembus USD100 per barel," ujarnya. Kenaikan itu dipicu laporan media soal dua kapal tanker internasional yang dihantam di dekat Irak. Belum lagi kabar dari Oman yang mengevakuasi terminal ekspor minyak utamanya. Situasi makin tegang dengan aksi Iran yang terlihat memblokir Selat Hormuz jalur vital untuk sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Nah, harga minyak yang tinggi ini bikin pasar waspada. Kekhawatiran utamanya adalah inflasi jangka panjang yang bisa merangkak naik. Kalau sudah begini, spekulasi tentang kebijakan bank sentral yang lebih agresif pun tak terhindarkan. Sinyal yang simpang-siur soal konflik Iran juga bikin pasar logam berfluktuasi sepanjang minggu. Meski Presiden AS Donald Trump dan pejabatnya berkali-kali bilang perang hampir berakhir, permusuhan di lapangan antara AS, Israel, dan Iran ternyata belum reda.
Di sisi lain, data inflasi AS untuk Februari ternyata sesuai ekspektasi. Tapi data itu tak banyak menghilangkan kekhawatiran. Tekanan harga dari sektor energi masih mengintai. Fokus pasar sekarang sepenuhnya tertuju pada rilis data indeks harga PCE untuk Januari, yang baru keluar Jumat. Data ini jadi tolok ukur favorit The Fed, dan hasilnya pasti akan mempengaruhi ekspektasi inflasi ke depan.
Bagaimana dengan sentimen dalam negeri? Laporan APBN sampai Februari 2026 mencatatkan beberapa hal positif. Penerimaan pajak tumbuh cukup menggembirakan, di atas 30 persen. Penyerapan belanjanya juga melesat 41,9 persen. Tapi, kalau dilihat lebih dalam, postur anggaran ini masih seperti "gali lubang tutup lubang".
Realitanya, keseimbangan primer malah mencatat defisit Rp35,9 triliun. Sementara itu, beban bunga utang terus membengkak. Defisit pada keseimbangan primer itu mengonfirmasi satu hal: pemerintah masih perlu utang baru untuk menutupi pokok utang lama.
Angkanya cukup mencengangkan. Estimasi pembayaran bunga utang bulan lalu saja sudah mencapai Rp99,8 triliun. Jumlah itu didapat dari selisih antara defisit anggaran (Rp135,7 triliun) dengan defisit keseimbangan primer tadi. Bayangkan, pembayaran bunga sebesar itu sudah menghabiskan 16,64% dari pagu anggaran bunga utang untuk seluruh tahun 2026, yang sebesar Rp599,4 triliun.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka ini naik drastis 25,8 persen. Yang lebih memprihatinkan, beban bunga itu setara 28,8% dari total realisasi belanja pemerintah pusat di Februari 2026. Jauh lebih tinggi ketimbang penyerapan anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (Rp44 triliun) atau belanja subsidi dan kompensasi yang cuma Rp51,5 triliun.
Melihat seluruh analisis itu, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka. Ia memperkirakan mata uang kita akan bergerak dalam rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Mayapada Hospital Luncurkan Teknologi Kedokteran Nuklir untuk Tingkatkan Presisi Perawatan Kanker
Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 26 Juta, IHSG Justru Terkoreksi 6,6% dalam Sepekan
BEI Luncurkan Kampanye ‘Aku Net-Zero Hero’ di Hari Bumi, Dorong Partisipasi Publik dalam Perdagangan Karbon
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas