Di lapangan, program ini sudah mulai mengubah cerita hidup beberapa orang. Seperti Marni, seorang nasabah PNM dari Kutawaluya, Karawang. Ia bergabung sejak 2018, dengan plafon pinjaman yang naik dari Rp 3 juta jadi Rp 8 juta sekarang.
Perjalanannya tidak mudah. Dulu, kehidupan keluarganya serba kekurangan.
"Dulu suami saya nggak punya kerja tetap, serabutan. Sembilan tahun lalu, buat makan sehari-hari aja rasanya kurang. Jangankan buat beli lauk, kadang sepotong ayam pun susah sekali," kenang Marni.
Ia berjualan keliling, panas-panasan membawa dagangan. Namun, setelah masuk program Mekaar dan kemudian mendapat akses HOME Syariah, perlahan keadaan berubah. "Saya bisa bangun warung kecil di rumah. Sekarang saya nggak perlu keliling lagi, jualan gorengan bisa dari rumah," ceritanya dengan nada lega.
Perubahan itu terasa nyata bagi keluarganya. "Alhamdulillah, saya bisa bantu suami, penghasilan lebih jelas, dan yang paling saya syukuri, anak-anak bisa tetap sekolah," tutur Marni.
Kisah seperti inilah yang ingin terus diduplikasi. Program HOME Syariah, pada akhirnya, bukan cuma soal membenahi fisik bangunan. Lebih dari itu, ia berusaha mengukir fondasi ekonomi yang lebih kokoh, dimulai dari dalam rumah.
Artikel Terkait
Persiapan Mudik Lebaran 2026: Ban Tepat Jadi Kunci Hemat Daya Mobil Listrik
MR.D.I.Y Indonesia (MDIY) Catat Laba Bersih Rp1,1 Triliun dan Usul Dividen 40%
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.893, Beban Bunga Utang Membengkak Capai Rp99,8 Triliun
IHSG Turun 0,37% ke 7.362,12 Didominasi Tekanan Jual