Terlalu Nyaman Berkuasa, Itu Pertanda Bahaya
Sebenarnya, kasus yang menimpa Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang ini bukanlah kejutan. Sejak awal, latar belakangnya sebagai pengusaha sukses di bidang limbah sudah memberi sinyal. Dunia politik, apalagi di Bekasi, tentu sangat menggoda bagi seorang seperti Ade. Dia mencoba peruntungan dan berhasil. Menang pilkada lewat PDIP, berpasangan dengan adik mantan kepala daerah sebelumnya. Nah, mantan bupati yang digantikan itu sendiri, Neneng Yasin, juga pernah diciduk KPK terkait kasus Meikarta. Belum selesai masa jabatannya, ia meninggal dunia. Lingkaran kekuasaan yang dibalut bisnis memang sering terlihat gemerlap, tapi ujung-ujungnya justru menjerumuskan.
Lord Acton pernah bilang, kekuasaan itu cenderung korup. Kekuasaan absolut? Bisa dibilang sangat koruptif. Nah, di sinilah masalahnya. Ketika batas antara pengusaha dan penguasa kabur, semuanya jadi kacau. Urusan perizinan usaha, misalnya, tiba-tiba jadi alat untuk memperbesar pengaruh dan pundi-pundi. Hampir mustahil ada peluang bisnis yang bisa lepas dari campur tangan kekuasaan. Rizal Ramli punya istilahnya: pengpeng. Ya, penguasa sekaligus pengusaha.
Bayangkan saja. Seorang pengusaha yang sudah punya akses ke segala lini kekuasaan, risiko untuk tergoda itu sangat besar. Semua serba bisa diatur, ditembus. Makanya, menyatukan kekuasaan politik dengan dunia usaha itu ibarat menyimpan bensin di dekat api. Rawan banget. Rawan penyimpangan, penyelewengan wewenang, atau abuse of power kalau mau pakai istilah kerennya.
Artikel Terkait
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi
Di Balik Trauma Child Grooming: Ancaman Bunuh Diri dan Diamnya Orang Tua
Investasi TaniHub Berujung Dakwaan: Kerugian Negara Capai Ratusan Miliar
Dokumen Epstein Bocor, Tautan Indonesian CIA dan Transaksi Properti dengan Trump Mengarah ke Hary Tanoe