Di layar kanal YouTube-nya, Selasa lalu, Rocky Gerung tak sungkan menyampaikan kritik pedas. Pengamat politik itu bicara blak-blakan tentang kondisi republik kita. Intinya, menurut dia, Indonesia saat ini cuma punya bentuk, tapi kehilangan jiwa.
"Kita hidup di dalam bentuk republik without republicanism ethics," ujarnya tegas.
Rocky melanjutkan, "Instalasi di dalamnya adalah feodalisme, rasisme, nepotisme."
Pernyataannya itu jelas sebuah tamparan. Di satu sisi, secara infrastruktur negara kita memang republik. Namun begitu, nilai-nilai luhur yang seharusnya mengisi bentuk itu seperti kesetaraan dan kepentingan publik justru tergerus. Yang mengisi, dalam pandangannya, adalah praktik-praktik lama yang seharusnya sudah ditinggalkan.
Ia lantas menarik perbandingan yang cukup menyayat. Rocky mengenang etos para pendiri bangsa, sebut saja Sudirman, Hugeng, atau Sutan Sjahrir. Mereka, dalam narasinya, adalah figur yang rela mempertaruhkan segalanya bahkan eksistensi pribadi untuk kemaslahatan bersama.
Lalu bandingkan dengan elit politik sekarang. Semangat pengorbanan itu, kata Rocky, seolah menguap begitu saja. Yang tersisa seringkali hanya pencarian keuntungan pribadi atau kelompok. Jaraknya sangat jauh dari cita-cita republikanisme yang sejati.
Analisis Rocky ini, mau tak mau, membuat kita merenung. Benarkah kita hanya menjalankan republik sebagai kulitnya saja, sementara isinya sudah berbeda sama sekali? Pertanyaan yang tak mudah dijawab, tapi penting untuk diajukan.
Artikel Terkait
Juru Parkir di Makassar Viral Minta Tarif Rp20.000, Polisi Amankan Pelaku
Akun Instagram Ahmad Dhani Diduga Diretas, Munculkan Promo Emas dan iPhone dengan Harga Tak Wajar
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri
Harga Emas Galeri24 Naik Rp10.000, UBS Justru Terkoreksi Rp13.000 per Gram