Ia lantas menarik perbandingan yang cukup menyayat. Rocky mengenang etos para pendiri bangsa, sebut saja Sudirman, Hugeng, atau Sutan Sjahrir. Mereka, dalam narasinya, adalah figur yang rela mempertaruhkan segalanya bahkan eksistensi pribadi untuk kemaslahatan bersama.
Lalu bandingkan dengan elit politik sekarang. Semangat pengorbanan itu, kata Rocky, seolah menguap begitu saja. Yang tersisa seringkali hanya pencarian keuntungan pribadi atau kelompok. Jaraknya sangat jauh dari cita-cita republikanisme yang sejati.
Analisis Rocky ini, mau tak mau, membuat kita merenung. Benarkah kita hanya menjalankan republik sebagai kulitnya saja, sementara isinya sudah berbeda sama sekali? Pertanyaan yang tak mudah dijawab, tapi penting untuk diajukan.
Artikel Terkait
PSSI Umumkan 24 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA Series, Klok dan Egy Tak Masuk
Kakak Ipar Ancam Pakai Parang, Korban Tewas Jatuh Saat Kabur di Makassar
Wali Kota Makassar Ajak Warga Pererat Silaturahmi di Idul Fitri
Menteri Amran Gelar Open House dan Ziarah Keluarga di Kampung Halaman Bone