Ia lantas menarik perbandingan yang cukup menyayat. Rocky mengenang etos para pendiri bangsa, sebut saja Sudirman, Hugeng, atau Sutan Sjahrir. Mereka, dalam narasinya, adalah figur yang rela mempertaruhkan segalanya bahkan eksistensi pribadi untuk kemaslahatan bersama.
Lalu bandingkan dengan elit politik sekarang. Semangat pengorbanan itu, kata Rocky, seolah menguap begitu saja. Yang tersisa seringkali hanya pencarian keuntungan pribadi atau kelompok. Jaraknya sangat jauh dari cita-cita republikanisme yang sejati.
Analisis Rocky ini, mau tak mau, membuat kita merenung. Benarkah kita hanya menjalankan republik sebagai kulitnya saja, sementara isinya sudah berbeda sama sekali? Pertanyaan yang tak mudah dijawab, tapi penting untuk diajukan.
Artikel Terkait
Pramono Anung Larang Atap Seng untuk Rumah Baru di Jakarta
Pemerintah Pacu Pembentukan Badan Pengawas Data Pribadi, Targetkan Perpres 2026
Sepuluh Ribu Rupiah yang Tak Terbeli: Ketika Sebatang Pena Menjadi Harga Sebuah Nyawa
HNW Pertanyakan Nasib Kampung Haji dalam RKAT BPKH 2026