Malam itu, di kota Zintan yang sepi, sebuah serangan brutal mengakhiri hidup Saif al-Islam Qadafi. Putra mendiang pemimpin Libya, Moammar Gaddafi itu, tewas ditembak di taman kediamannya sendiri. Menurut laporan media Al Arabiya, empat penyerang bertindak pada Selasa malam, sekitar pukul setengah tiga dini hari waktu setempat.
Kota itu terletak sekitar 136 kilometer di barat daya Tripoli. Saksi menyebut para pelaku lebih dulu menonaktifkan kamera pengawas. Setelah terjadi konfrontasi, mereka melepaskan tembakan. Lalu, menghilang begitu saja dalam gelap.
Rinciannya masih samar. Tapi seorang rekan dekat almarhum dengan tegas menyebutnya sebagai sebuah "pembunihan."
Abdullah Othman, mantan penasihat politik Saif, mengonfirmasi kabar duka ini lewat Facebook.
Kematiannya menutup babak panjang dari seorang tokoh yang tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang revolusi 2011. Saif tetap jadi figur penting pasca-rezim ayahnya runtuh oleh pemberontakan yang didukung NATO.
Dari Putra Mahkota hingga Tahanan
Kehidupannya adalah kisah perubahan drastis. Dulu, ia dianggap sebagai sosok paling berpengaruh di Libya setelah sang ayah. Seorang reformis yang berpendidikan London, fasih berbahasa Inggris, dan sering jadi wajah diplomatik negara. Ia yang menegosiasikan kompensasi untuk keluarga korban Lockerbie, misalnya. Banyak pihak di Barat sempat melihatnya sebagai harapan.
Artikel Terkait
Iran Tuntut Penarikan Pasukan AS dan Ganti Rugi sebagai Syarat Akhiri Perang
Menteri Iran Tuduh Israel Sensor Dampak Serangan Balasan
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran