Tapi segalanya berbalik saat pemberontakan meletus. Saif memilih loyalitas pada keluarganya. Ia jadi arsitek penindasan brutal, menyebut para pemberontak sebagai "tikus".
Setelah Tripoli jatuh, ia mencoba kabur menyamar. Nasib malah membawanya ditangkap milisi dan dipenjara di Zintan. Enam tahun ia habiskan di sana, jauh dari gaya hidup mewahnya dulu yang gemar berburu elang dan memelihara harimau. Human Rights Watch yang sempat menemuinya melaporkan Saif kehilangan satu gigi dan mengeluh terisolasi.
Pengadilan di Tripoli bahkan menjatuhkan hukuman mati untuknya pada 2015 atas kejahatan perang. Meski dibebaskan dua tahun kemudian, ia harus bersembunyi di Zintan untuk menghindari pembunuhan.
Comeback yang Tak Pernah Sempurna
Pada 2021, ia muncul kembali. Dengan sorban tradisional, ia mendaftar sebagai calon presiden di Sabha. Langkahnya dipicu nostalgia akan stabilitas era Gaddafi, di tengah kekacauan yang melanda Libya bertahun-tahun.
Namun, comeback-nya penuh kontroversi. Banyak yang masih trauma dengan pemerintahan ayahnya. Kelompok-kelompok bersenjata menolaknya mentah-mentah. Pencalonannya malah jadi salah satu pemicu kebuntuan politik. Ia sempat didiskualifikasi, bandingnya terhambat, dan proses pemilihan akhirnya runtuh.
Dan kini, di kota yang sama tempat ia pernah menjadi tahanan, hidupnya berakhir. Saif al-Islam Qadafi pergi, meninggalkan warisan yang rumit dan sebuah negara yang masih terpecah.
Artikel Terkait
Dokumen Bocor Ungkap Upaya Epstein Dekati Putin Lewat Jaringan Tingkat Tinggi
Bocornya Dokumen Epstein: Bali Masuk dalam Jejak Perjalanan Gelap
Dokumen Epstein Bocor: FBI Sorot Klaim Trump Dikendalikan Israel
Kain Suci Kabah Dikirim ke Jeffrey Epstein, Terungkap dari Dokumen Rahasia