Gentengisasi Prabowo: Arsitek Ingatkan Tak Ada Atap yang Cocok untuk Semua Daerah

- Selasa, 03 Februari 2026 | 18:42 WIB
Gentengisasi Prabowo: Arsitek Ingatkan Tak Ada Atap yang Cocok untuk Semua Daerah

Merespons wacana Prabowo Subianto soal 'proyek gentengisasi', Ikatan Arsitek Indonesia punya catatan menarik. Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto yang akrab disapa Bugar mengakui kelebihan genteng tanah liat. Menurutnya, material alami ini punya kualitas yang memang bagus.

“Secara mikroklimatik, genteng tanah liat memiliki kemampuan isolasi panas yang baik sehingga meningkatkan kenyamanan termal ruang di bawahnya, sekaligus memiliki nilai keberlanjutan karena berasal dari material alami dan dapat didaur ulang,” jelas Bugar saat dihubungi, Selasa (3/2).

Tapi, jangan buru-buru membandingkannya dengan atap seng. Soalnya, perbandingannya nggak bisa parsial. Dari sudut struktur dan kemudahan membangun, material metal seperti seng atau zincalume punya keunggulan sendiri. Bobotnya lebih ringan, rangkanya lebih sederhana, dan pemasangannya cepat. Bahkan, dalam situasi gempa, risiko fatalitasnya bisa lebih rendah.

“Sebaliknya, dari aspek kenyamanan termal, akustik, dan dampak lingkungan jangka panjang, genteng tanah liat lebih unggul dibandingkan seng atau asbes, yang cenderung panas, bising saat hujan, dan pada kasus asbes memiliki risiko kesehatan serius,” ungkapnya.

Di sisi lain, Bugar mengingatkan satu hal penting: Indonesia ini luas dan beragam. Konteks geografis dan ekologisnya berbeda-beda. Ambil contoh, nggak semua daerah punya sumber tanah liat yang cukup untuk produksi genteng.

“Di Pulau Jawa, misalnya, penggunaan genteng tanah liat berkembang secara historis karena ketersediaan bahan baku dan kecocokannya dengan iklim. Sementara di wilayah kepulauan seperti Maluku atau daerah pesisir berangin dan rawan gempa,” paparnya.

Karena itulah, menurut Bugar, mustahil menyamaratakan satu jenis material atap untuk seluruh Indonesia. Nggak ada yang paling tepat secara universal.

Lantas, bagaimana memilih? Idealnya, menurut Bugar, patokannya adalah keandalan bangunan mencakup keselamatan, kemudahan konstruksi, kesehatan penghuni, dan ketahanan terhadap bencana.

“Kedua, aspek keberlanjutan, di mana material yang bersumber dari wilayah sekitar idealnya dalam radius maksimum 100 kilometer, lebih disarankan untuk menekan jejak karbon transportasi dan mendukung ekonomi lokal,” tuturnya.

Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, usulan Prabowo sebenarnya bisa diterima. Asalkan diterapkan secara kontekstual, bukan jadi kebijakan seragam yang kaku.

Genteng tanah liat memang pilihan yang bagus untuk daerah yang punya bahan baku, tradisi, dan tingkat kerawanan gempa yang rendah. Tapi untuk wilayah lain, fleksibilitas tetap kunci. Prinsip keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan harus berjalan beriringan.

“Pendekatan inilah yang sejalan dengan prinsip arsitektur berkelanjutan dan tanggung jawab profesional arsitek terhadap masyarakat dan lingkungan,” kata Bugar menegaskan.

Gagasan Prabowo sendiri muncul dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul. Dia ingin ada gerakan nasional untuk mengganti atap seng dengan genteng tanah liat, dengan melibatkan Koperasi Desa Merah Putih.

Menurutnya, atap seng yang masih banyak dipakai itu punya banyak masalah. “Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” ujar Prabowo.

“Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” sambungnya dengan nada khas.

“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” tegasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar