Jenazah Pendaki Muda Terkatung di Lereng Slamet, Cuaca Buruk Tunda Evakuasi

- Rabu, 14 Januari 2026 | 22:42 WIB
Jenazah Pendaki Muda Terkatung di Lereng Slamet, Cuaca Buruk Tunda Evakuasi

Hingga Rabu (14/1) sore ini, jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan masih tertahan di lereng Gunung Slamet. Pendaki asal Magelang yang berusia 18 tahun itu ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, setelah sebelumnya hilang selama beberapa hari. Menurut perkiraan tim, ia sudah meninggal dunia sekitar lima hari sebelum akhirnya ditemukan.

Kabar penemuan itu disampaikan langsung oleh Kepala BPBD Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin.

"Meninggal sekitar sudah 5 hari. (Jenazah) masih utuh," ujar Agus, Rabu siang.

Ia menyebut kondisi jenazah Syafiq relatif masih utuh. Meski begitu, proses evakuasi tak bisa langsung dilakukan. Cuaca buruk jadi penghalang utama.

"Belum (dievakuasi) karena cuaca hujan dan berkabut. Tapi malam ini kita terus bergerak," tambah Agus.

Dugaan sementara, penyebab kematiannya adalah hipotermia. Suhu dingin ekstrem di ketinggian diduga merenggut nyawa pemuda itu.

"Dugannya hipotermia," jelasnya singkat.

Jasad Syafiq sendiri ditemukan di area Watu Langgar, lereng yang masuk wilayah Kabupaten Purbalingga. Tim relawan gabungan masih standby, menunggu celah cuaca untuk membawanya turun.

Kisahnya bermula dari sebuah pendakian yang seharusnya singkat. Syafiq mendaki Slamet bersama temannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu 27 Desember 2025. Mereka berangkat dari Basecamp Dipajaya di Pulosari, Pemalang, dengan rencana pendakian "tektok" istilah untuk pendakian tanpa menginap.

Rencananya, mereka akan turun keesokan harinya, Minggu 28 Desember. Tapi malang, di tengah perjalanan turun, Himawan mengalami cedera kaki. Syafiq pun berinisiatif turun lebih dulu untuk mencari pertolongan.

Namun, ia tak kunjung kembali.

Khawatir akan keselamatan keduanya, tim relawan gabungan pun diterjunkan untuk melakukan pencarian pada Minggu malam itu juga. Himawan akhirnya berhasil dievakuasi dari Pos 9 pada Selasa 30 Desember dalam kondisi lemas. Sementara Syafiq, harus menunggu dua minggu lebih sebelum akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Kini, semua mata tertuju pada cuaca. Menunggu kabut dan hujan reda, agar perjalanan terakhir Syafiq dari gunung yang dicintainya bisa segera dilakukan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar