Jakarta - Menjelang puncak arus mudik dan balik, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mengaku sudah siap. Kali ini, mereka akan lebih mengandalkan teknologi digital untuk mengatur arus kendaraan di jalan tol. Intinya, agar perjalanan masyarakat lebih lancar.
Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan, kolaborasi dengan berbagai pihak akan terus dilakukan.
"Berkaitan dengan tata kelola jalan tol tentunya pada saat puncak arus nanti, apakah menghadapi arus mudik dan balik, tentunya Korlantas Polri dengan stakeholder akan selalu berkolaborasi," ujar Agus dalam siaran persnya, Minggu (1/3).
Rencananya, teknologi digital akan jadi tulang punggung untuk manajemen dan rekayasa lalu lintas. Skemanya macam-macam, mulai dari pengalihan arus, penjagaan, sampai yang sudah akrab di telinga: contraflow dan sistem satu arah nasional.
"Korlantas Polri menggunakan teknologi digital saat akan melakukan manajemen rekayasa lalu lintas, baik alih arus, baik penjagaan, hingga contraflow, one way nasional, dan seterusnya," kata dia.
Nah, soal penerapan contraflow itu sendiri, rupanya tidak asal pakai. Ada parameternya. Tujuannya jelas, biar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan benar-benar efektif melancarkan arus.
"Pada saat arus mudik dan arus balik tentunya kami akan melakukan rekayasa lalu lintas contraflow, inipun juga ada parameter-parameter bagaimana kami mengeksekusi, sehingga kami bisa memperlancar perjalanan para pemudik, dan termasuk arus balik," tambahnya.
Lalu, parameter apa yang dipakai? Salah satunya adalah jumlah kendaraan per jam yang terpantau lewat radar dan sistem penghitung lalu lintas atau traffic counting.
"Parameter itu tentunya akan kita lihat radar, ketika satu jam berturut-turut 4.500 hingga 5.000 dalam satu jam, ini akan kami berlakukan contraflow lajur 1. Demikian juga apabila sudah 6.400, ini juga akan kami melakukan contraflow lajur 2," jelas Kakorlantas.
Di sisi lain, kebijakan one way baik nasional maupun sepenggal juga akan dipertimbangkan. Dasarnya adalah data pemantauan real time yang terus diperbarui.
"Kami akan melakukan one way nasional atau one way sepenggal di wilayah one way nasional, tentunya update terakhir dari teknologi pemantauan arus lalu lintas, baik itu melalui drone presisi, juga radar yang ada di Jasa Marga," katanya.
Jadi, skenarionya kira-kira begini. Kalau angka traffic counting sudah sangat tinggi dan contraflow dua lajur pun sudah diterapkan, maka opsi terakhir adalah memberlakukan one way nasional.
"Tentunya traffic counting yang sudah cukup tinggi, termasuk contraflow 2 lajur, nanti akan kita buka one way nasional. Itulah cara-cara Korlantas hadir bekerja menggunakan teknologi dan update traffic counting, termasuk flow di bidang lintas akan kami hitung dengan cara-cara teknologi," pungkas dia.
Artikel Terkait
Ibas Soroti Potensi Ekonomi dan Tantangan Industri Kreatif di Forum Museum Nasional
Empat Kandidat Juara Liga Champions 2026 Siap Bertarung di Babak Semifinal
Wamen Dalam Negeri: Program Strategis Nasional Harus Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Mendagri Beri Tenggat Satu Pekan untuk Pendataan Huntap Korban Bencana Sumatera