Wall Street Menguat Tipis, Pasar Nantikan Laporan Keuangan Micron

- Rabu, 24 Juni 2026 | 22:00 WIB
Wall Street Menguat Tipis, Pasar Nantikan Laporan Keuangan Micron

Wall Street berhasil membuka perdagangan dengan penguatan tipis pada Rabu (24/6/2026) pagi waktu setempat, memutus tren negatif yang membayangi dua sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 dan Nasdaq sama-sama mencatat kenaikan, didorong oleh pergerakan saham teknologi yang bervariasi di tengah antisipasi pasar terhadap laporan keuangan raksasa semikonduktor, Micron.

Dow Jones Industrial Average bertambah 62,08 poin atau 0,12 persen ke level 51.728,92. S&P 500 menguat 23,79 poin atau 0,32 persen menjadi 7.389,25, sementara Nasdaq Composite naik 72,18 poin atau 0,28 persen ke posisi 25.659,22. Dari 11 sektor utama S&P 500, tujuh di antaranya menghijau. Sektor barang konsumsi non-esensial memimpin dengan kenaikan terbesar mencapai 1 persen.

Penguatan ini terjadi setelah pekan sebelumnya pasar didera kekhawatiran. Kekhawatiran itu muncul terkait pengeluaran besar-besaran yang didukung utang oleh perusahaan hyperscaler serta potensi kebijakan Federal Reserve yang lebih agresif. Akibatnya, nilai pasar Nasdaq 100 terkikis lebih dari USD1 triliun dalam sepekan terakhir.

Volatilitas yang meningkat membuat semua mata kini tertuju pada Micron. Perusahaan ini dianggap sebagai penerima manfaat utama dari lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang bernilai miliaran dolar. Saham Micron sendiri telah melonjak lebih dari 268 persen sepanjang 2026, meskipun sempat terpukul dengan penurunan 13 persen pada Selasa lalu.

“Laporan pendapatan Micron kali ini sangat penting bagi sentimen pasar. Investor memiliki pertanyaan-pertanyaan kunci, khususnya mengenai biaya untuk mewujudkan AI seberapa mahal biayanya dan jenis pengembalian investasi apa yang dilihat perusahaan,” ujar Brent Schutte, Kepala Investasi di Northwestern Mutual Wealth Management Company.

Di sisi lain, investor juga terus mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran masih berselisih soal sejumlah isu krusial, termasuk insentif keuangan untuk Iran, kendali atas Selat Hormuz, serta perang Israel di Lebanon. Ketegangan ini langsung berdampak pada sektor energi. Indeks sektor energi S&P 500 tercatat turun 2,3 persen seiring harga minyak mentah Brent yang merosot ke level terendah dalam hampir empat bulan. Penyebabnya, semakin banyak kapal tanker yang diperkirakan akan keluar dari Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyebut Iran telah memberi tahu Washington bahwa tidak ada pungutan tol yang diminta.

Meski dibayangi ketidakpastian, optimisme tetap menyelimuti pasar. Ekspektasi pertumbuhan pendapatan yang kuat dan harapan akan berakhirnya perang membuat S&P 500 berada di jalur menuju kenaikan kuartalan terkuat dalam enam tahun, meskipun ada ekspektasi kenaikan suku bunga. JP Morgan bahkan menaikkan target harga S&P 500 akhir tahun menjadi 7.800 poin, dengan alasan momentum pertumbuhan pendapatan yang solid dan ekonomi yang tangguh.

Di lantai bursa, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun. Di NYSE, rasionya mencapai 1,58 banding 1, sementara di Nasdaq rasionya 1,24 banding 1. Indeks S&P 500 mencatatkan 10 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu rekor terendah baru. Adapun Indeks Komposit Nasdaq menorehkan 77 rekor tertinggi baru dan 40 rekor terendah baru.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar