Warga Jakarta Bergerak dari Bawah Atasi Polusi Udara Lewat Inisiatif Komunitas

- Rabu, 24 Juni 2026 | 00:15 WIB
Warga Jakarta Bergerak dari Bawah Atasi Polusi Udara Lewat Inisiatif Komunitas

Jakarta, yang kerap menempati peringkat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara, menghadapi persoalan polusi yang begitu kompleks. Emisi dari kendaraan bermotor, cerobong industri, hingga aktivitas rumah tangga sehari-hari membentuk lapisan polutan yang tak bisa diurai hanya dengan kebijakan dari satu arah. Di tengah situasi itu, muncul kesadaran bahwa inisiatif warga menjadi kunci untuk memperkuat intervensi pemerintah.

Forum Udara Warga bertajuk "Udara Kita, Suara Kita" yang digelar di Tebet Eco Park menjadi bukti bagaimana masyarakat mulai mengambil peran. Dalam forum itu, warga Jakarta tidak hanya berbagi pengalaman pribadi tentang polusi yang mereka hirup setiap hari, tetapi juga bertukar pandangan tentang berbagai inisiatif komunitas yang lahir dari bawah untuk mengurai persoalan udara kotor.

Ajie, penggerak masyarakat dan penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, menilai forum semacam ini membuka ruang bagi warga untuk saling belajar. Menurutnya, pertemuan itu menjadi wadah untuk mendengar bagaimana komunitas lain menghadapi tantangan serupa dan cara mereka mengatasinya.

“Harapannya, nanti semakin banyak anak muda yang ikut terlibat,” ujar Ajie dalam keterangannya, Selasa, 23 Juni 2026.

Forum diawali dengan sesi berbagi pengalaman dari para penggerak komunitas yang selama ini bekerja di kelurahan masing-masing. Mereka datang dari Penjaringan, Kebayoran Lama Selatan, Kebon Kosong, hingga Semper Barat. Cerita yang dibawa pun beragam: dari inisiatif bank sampah, kebun komunitas, transisi energi rumah tangga, hingga advokasi ruang terbuka hijau. Semua tumbuh dari kebutuhan warga yang paling nyata di lapangan.

Rahmawat, Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, mengapresiasi model partisipasi komunitas ini. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas dukungan terhadap inisiatif warga yang sudah terbukti berjalan.

“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ungkap Rahmawat.

Forum ini sekaligus menjadi momentum peluncuran kembali platform Jakarta Rendah Emisi (JRE). Platform itu dirancang sebagai ruang diskusi yang terus hidup setelah forum usai. Breathe Cities Jakarta menegaskan JRE menjadi kanal bersama antara warga, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah untuk terus memantau, berbagi, dan mendorong aksi di tingkat lokal.

Imelda Maidir, Indonesia Country Coordinator di Vital Strategies yang mewakili Breathe Cities Jakarta, berharap perbincangan antarwarga ini tidak berhenti. Salah satu wadahnya adalah platform JRE.

“Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari,” ujar Imelda.

Di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, persoalan polusi udara bukanlah abstraksi. Kawasan ini berbatasan langsung dengan delapan titik bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok. Lalu lintas kontainer berat setiap hari memenuhi jalan-jalan permukiman dengan emisi diesel. Paparan polutan di sana bersifat harian dan berlapis, menyebabkan gangguan pernapasan pada warga. Salah satu sumber yang kerap luput dari perhatian adalah pembakaran sampah terbuka.

Di permukiman padat perkotaan, praktik itu menjadi salah satu penyumbang emisi PM2.5 yang langsung berdampak pada kesehatan warga di sekitarnya, terutama anak-anak dan lansia yang paling lama berada di dalam dan sekitar rumah.

Nur Fiyah, penggerak Bank Sampah Kenanga di RW 004, menjelaskan bagaimana inisiatif yang bermula dari pemilahan sampah kini bergeser menjadi advokasi ruang hidup.

“Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri,” kata Nur.

Sejak 2017, Bank Sampah Kenanga berkembang hingga melayani lebih dari 600 nasabah aktif. Tabungan sampah dikonversi untuk biaya pendidikan, persalinan, dan modal usaha warga. Sanksi terhadap pembakaran sampah liar diterapkan bukan melalui peraturan formal, melainkan kesepakatan bersama warga.

Ke depan, Nur Fiyah mengatakan komunitas tengah menyiapkan rencana untuk menggunakan hasil bank sampah guna mengaktivasi ruang-ruang terbuka hijau di sekitar permukiman, terutama untuk ruang bermain anak. Warga dan pemerintah setempat telah menghijaukan bekas lahan parkir kontainer sebagai taman. Mereka juga sedang membangun waduk untuk melengkapi ruang terbuka hijau dari inisiatif warga ini.

“Kami mau anak-anak kami punya tempat bermain yang layak dan udara yang bisa dihirup dengan tenang,” kata Nur.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar