Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyoroti sebuah hal yang cukup mengejutkan: hilangnya Rumah Radio Bung Tomo di Surabaya. Lokasinya di Jalan Mawar Nomor 10 itu sepertinya sudah berubah wajah. Menanggapi hal ini, Tim Ahli Cagar Budaya Surabaya punya pendapat yang cukup tegas. Menurut mereka, ini adalah buah dari keteledoran yang melibatkan banyak pihak.
Sekretaris TACB, Prof Purnawan Basundoro, mengaku melihat sorotan presiden sebagai sesuatu yang positif.
"Ini menunjukkan perhatian dan kesadaran sejarah beliau yang sangat tinggi. Radio Bung Tomo itu kan bukan cuma milik Surabaya, tapi bagian dari sejarah Indonesia secara keseluruhan," ujar Purnawan.
Ia lalu mengenang peristiwa memilukan delapan tahun silam. Rumah bersejarah itu dirobohkan pada 2016, dan kejadian itu seharusnya jadi pelajaran berharga buat semua. Purnawan merasa, hilangnya cagar budaya semacam ini tidak bisa hanya disalahkan pada satu oknum. Ini soal kelalaian kolektif.
"Kasus tahun 2016 itu jelas sebuah keteledoran besar. Semua pihak di kota ini ikut bersalah, sehingga bangunan penting itu akhirnya tumbang demi kepentingan bisnis semata," katanya lagi.
Sebenarnya, pertanyaan presiden ini muncul dalam sebuah rapat koordinasi dengan para kepala daerah. Prabowo secara spesifik menyinggung soal stasiun RRI yang dulu dipakai Bung Tomo untuk membakar semangat rakyat jelang pertempuran 10 November.
"Saya mau tanya, di mana stasiun RRI yang digunakan Bung Tomo pada pertempuran 10 November? Apakah masih ada? Di mana situs-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa sudah menjadi pabrik," tanya Prabowo waktu itu.
Pertanyaannya itu, sederhana saja, tapi menyentuh persoalan pelik yang sudah lama mengendap: bagaimana kita menjaga jejak-jejak sejarah di tengah deru pembangunan.
Artikel Terkait
KPK Periksa Empat Kepala Dinas Cilacap sebagai Saksi Kasus Pemerasan Bupati Nonaktif
Kompolnas Resmi Berkantor di Graha Sentana, Perkuat Pengawasan dan Layanan Pengaduan Digital
Laga Persija Vs Persib Dipindah ke Samarinda Imbas Kekhawatiran Keamanan di Jakarta
Pemerintah Pastikan Anggaran 165 Petugas Penjaga Perlintasan Kereta di Sumatera Barat Aman Hingga 2026, Pembangunan Palang Dimulai 2027