Mereka ingin kembali berbicara. Dan kali ini, percakapan itu bakal terjadi di tingkat paling tinggi. Rencananya, mulai Senin depan, Dewan Kerja Sama Tingkat Tinggi Yunani–Turki akan bersidang di Ankara. Jika lancar, kita akan melihat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis duduk berhadapan. Bahkan, tak menutup kemungkinan mereka menggelar pertemuan khusus di luar agenda resmi.
Dewan ini sebenarnya sudah ada sejak 2010, dibentuk setelah periode ketegangan yang panjang di Mediterania Timur. Tapi, jangan berharap banyak. Catatan prestasinya boleh dibilang tipis. Fungsinya lebih sebagai wadah untuk membicarakan "agenda positif" antara dua sekutu NATO itu terutama soal ekonomi dan pariwisata. Nyatanya, dalam lebih dari satu dekade, sidangnya cuma lima kali. Yang terakhir baru-baru ini, Desember 2023 lalu, di Athena.
Namun begitu, perbedaan pendapat tetap tajam. Dari Athena, suara keras terdengar.
Di sisi lain, dari Istanbul, pandangan yang berbeda datang. Fuat Aksu, ilmuwan politik Universitas Teknik Yildiz, punya pendapat lain.
Navtex dan Gesekan Baru di Aegea
Di lapangan, situasi di Laut Aegea tak banyak berubah. Malah, ada sumber gesekan baru. Kamis lalu, Turki mengeluarkan peringatan melalui sistem Navtex mekanisme standar untuk keselamatan pelayaran yang menyebutkan risiko keamanan akibat aktivitas militer Yunani. Memang, peringatan serupa pernah terjadi sebelumnya.
Tapi kali ini, langkah Ankara itu lebih dilihat sebagai aksi unjuk otoritas. Soalnya, siapa yang punya wewenang di perairan Aegea ini sudah jadi sengketa lama antara kedua negara.
Athena langsung bereaksi. Mereka menilai ini sebagai upaya melawan hukum untuk memperluas wilayah kedaulatan. Media Yunani, To Vima, menyebutnya dengan tegas: "Provokasi baru Turki."
Ankara tentu saja membantah. Bagi mereka, ini cuma prosedur rutin yang sesuai kerangka hukum. Tapi, media pro-pemerintah di Turki menyiratkan hal lain. Mereka bilang Navtex ini "memicu kepanikan di Yunani" dan berpotensi "mengubah status quo di Aegea."
Bagi Mitsotakis, sengketa ini jadi tekanan tambahan, terutama dari sayap kanan dalam negeri. Kyriakos Velopoulos, pemimpin partai kanan-populis Greek Solution (EL), dengan lantang mengkritik.
Artikel Terkait
Prabowo Soroti Hilangnya Rumah Radio Bung Tomo, Ahli Sebut Keteledoran Kolektif
Dendam dan Ideologi Ekstrem: Siswa SMP Kubu Raya Lempar Bom Molotov di Sekolah
KPK Bergerak Cepat: OTT Bea Cukai Jakarta dan Banjarmasin Digelar Serentak
Ibu Kandung Habib Bahar Laporkan Istri Korban ke Polres Bogor