Di sebuah kompleks di perbatasan Kamboja, tepatnya di O’Smach, tersingkap sebuah tipuan yang terencana dengan sangat cermat. Para pelaku penipuan daring ternyata membangun studio lengkap yang didesain mirip kantor polisi. Yang lebih mengejutkan, mereka menggunakan seragam polisi palsu dari berbagai negara untuk mengelabui korbannya.
Seragam cokelat dengan bordiran 'Polri' dan tanda pangkat serupa tergeletak di sana. Memang, kemiripannya dengan seragam asli Polri tidaklah sempurna. Namun, bagi korban yang panik dan hanya melihat sekilas lewat layar video, itu sudah cukup untuk menciptakan kesan otoritas yang menakutkan.
Kompleks ini kini sudah sepi. Menurut laporan Associated Press Rabu lalu, para operatornya kabur secara terburu-buru. Mereka minggat setelah militer Thailand mengambil alih kawasan perbatasan itu, menyusul konflik bersenjata yang baru terjadi.
Foto-foto yang beredar menunjukkan suasana pasca-penggerebekan. Terlihat tentara Thailand berjalan di antara seragam-seragam palsu dan latar belakang kantor polisi tiruan. Ruangannya sendiri dirancang untuk meniru kantor polisi, tak hanya Indonesia, tapi juga Singapura dan negara lainnya.
"Ruangan-ruangan ini dirancang untuk meniru kantor polisi dari berbagai negara, termasuk Indonesia dan Singapura, guna menipu korban melalui panggilan video," tulis AP dalam laporannya.
Strateginya jelas: menyamar sebagai aparat penegak hukum saat melakukan panggilan video untuk memeras uang korban di luar negeri. Bendera nasional dan logo resmi pun dipajang sebagai alat bantu untuk memperkuat kebohongan.
Di sisi lain, kondisi di dalam kompleks itu justru memperlihatkan sisi gelap operasi ini. Peralatan komputer dan telepon genggam yang rusak berserakan di lantai. Yang lebih mencemaskan, sebuah alat penyetrum listrik atau taser ditemukan tergeletak di atas meja.
Alat itu diduga bukan untuk korban, melainkan untuk mendisiplinkan pekerja penipuan itu sendiri. Bisa dibayangkan, alat itu digunakan pada mereka yang mencoba kabur atau dianggap gagal memenuhi target penipuan.
Barang-barang pribadi pakaian kumal, sisa makanan masih tertinggal di kamar-kamar sempit yang dulu digunakan untuk menampung para pekerja. Ribuan orang, menurut dugaan, dipaksa bekerja dalam kondisi seperti ini di berbagai pusat penipuan se-Asia Tenggara.
Sementara itu, upaya pemulangan bagi WNI yang terlibat sedang diupayakan. KBRI Phnom Penh kini bergerak setelah otoritas Kamboja menggerebek tempat-tempat semacam ini. Nasib mereka yang menjadi korban kerja paksa masih menjadi perhatian utama.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp17.000 per Gram, Buyback Tembus Rp2.645.000
Ivan Toney Cetak Hat-trick, Al Ahli Hajar Al Fateh 3-1 di Liga Pro Saudi
31 Pelajar SMP di Gowa Diamankan Polisi Usai Konvoi Bawa Senjata Tajam
DWP Kemenko Perekonomian dan WBI Beri Penghargaan Kartini Muda ke Desainer Muda Pelestari Wastra Nusantara