Ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan banyak pihak pasca-penutupan Selat Hormuz, namun BCA Research memberikan peringatan bahwa ruang untuk menghindari resesi semakin sempit. Lembaga riset tersebut mengidentifikasi tujuh faktor yang selama ini menjadi bantalan perekonomian dunia, tetapi menekankan bahwa risiko perlambatan akan melonjak drastis jika jalur pelayaran strategis itu tetap tertutup hingga Juni mendatang.
Kepala Strategi BCA Research, Peter Berezin, dalam laporannya yang dikutip Kamis, 7 Mei 2026, menguraikan bahwa guncangan harga minyak secara historis baru menunjukkan dampak maksimalnya setelah empat kuartal. Artinya, efek penuh dari kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya terasa saat ini. Faktor pertama yang melindungi ekonomi global hanyalah persoalan waktu sebelum guncangan itu benar-benar menggerus pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, ekonomi global saat ini menggunakan minyak jauh lebih sedikit per unit PDB dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Namun, BCA Research memperingatkan bahwa efisiensi ini diimbangi oleh ketergantungan rantai pasokan yang jauh lebih besar, sehingga kerentanan terhadap gangguan energi justru meningkat. Sementara itu, ekspektasi inflasi jangka panjang masih terkendali, yang memberikan kelonggaran bagi bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga secara agresif.
Kebijakan fiskal turut menjadi penyeimbang dalam situasi ini. BCA Research mencatat bahwa ketentuan dalam Undang-Undang One Big Beautiful Bill mulai berlaku bersamaan dengan pengembalian bea masuk dari Departemen Keuangan Amerika Serikat. Langkah ini memberikan stimulus tambahan di tengah tekanan energi. Selain itu, perusahaan-perusahaan telah melakukan pembelian sebagai tindakan pencegahan, sebuah pola yang mengingatkan pada perilaku dunia usaha selama masa pandemi.
Ledakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi motor pertumbuhan yang signifikan. Investasi dalam perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi mencapai rekor 4,9 persen dari PDB pada kuartal pertama 2026. Di pasar minyak, kondisi backwardation yang dalam menandakan bahwa investor masih memperkirakan guncangan ini bersifat sementara.
BCA Research saat ini bersikap netral terhadap ekuitas global. Namun, lembaga tersebut memperingatkan akan segera mengadopsi sikap yang lebih defensif jika guncangan harga minyak terus berlanjut tanpa tanda-tanda resolusi. Dengan kata lain, ketahanan ekonomi global yang terlihat saat ini mungkin hanya penundaan sementara sebelum dampak sesungguhnya tiba.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR: Kenaikan BBM Nonsubsidi Konsekuensi Pasar Global, Bukan Kebijakan Sepihak
PCNU Pati Kecam Dugaan Pelecehan Puluhan Santriwati di Pesantren Ndolo Kusumo, Desak Polisi Segera Tahan Tersangka
Mensos Gus Ipul Titipkan Empat Pesan Strategis Pengelolaan Aset Negara di Sekolah Rakyat
UEA dan Bahrain Kecam Serangan Rudal Iran, Desak Dewan Keamanan PBB Ambil Tindakan Tegas