"Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," imbuhnya.
Di balik tragedi ini, ada secarik surat yang bikin hati miris. Saat mengevakuasi jenazah YBR (10), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangannya. Surat itu ditujukan untuk sang ibu, ditulis dengan bahasa daerah Bajawa.
Isinya singkat, tapi menusuk. Ada baris yang menyebut sang ibu "pelit sekali". Selebihnya, adalah ucapan perpisahan dan permintaan agar ibunya tidak menangis jika ia telah pergi.
Berikut isi suratnya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat itu. Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Apa pemicu kekecewaan mendalam si anak pada ibunya? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Beredar kabar bahwa korban kecewa lantaran tak dibelikan buku tulis. Tapi Benediktus belum bisa memastikan kebenaran informasi itu. “Masih pendalaman,” katanya singkat. Investigasi masih terus berjalan, mencoba menyusun puzzle duka dari sebuah kehidupan yang terenggut terlalu cepat.
Artikel Terkait
Pramono Anung Beri Sinyal Tegas ke Pengembang yang Mangkir dari Kewajiban Fasos-Fasum
Pramono Anung: Rusun Baru DKI Dilarang Pakai Atap Seng
Pramono Anung Larang Penggunaan Atap Seng untuk Rusun Baru DKI
Haru di Makam Giri Tama, Eyang Meri Beristirahat di Samping Sang Kapolri