Rabu kemarin, pasar saham lokal diramaikan oleh aksi saham-saham tambang emas yang merayap naik. Pemicunya jelas: harga emas dunia berhasil bangkit dan menembus level psikologis yang cukup mencengangkan, yaitu USD 5.000 per troy ons. Sentimen positif itu langsung terasa di papan perdagangan.
Di antara emiten yang bergerak, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) jadi yang paling bersinar. Sahamnya melonjak 4,41 persen, berhenti di harga Rp3.080 per unit. Tak ketinggalan, PT Amman Mineral Internasional (AMMN) juga naik solid 4 persen ke level Rp7.150.
Perlahan tapi pasti, saham-saham lain pun ikut merangkak. BRMS menguat 3,14 persen, ANTM naik 3,05 persen. Kemudian ada EMAS dan ARCI yang masing-masing bertambah 2,69 persen dan 2,64 persen. PSAB dan HRTA menutup daftar dengan kenaikan yang lebih moderat, tapi tetap di zona hijau.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan si kuning ini? Ternyata, emas spot naik 2,1 persen ke angka USD 5.051,59 per ons di perdagangan Rabu pagi. Ini melanjutkan lonjakan luar biasa dari sesi sebelumnya, yang bahkan disebut-sebut sebagai kenaikan harian terbesar sejak 2008. Aksi beli saat harga melemah atau 'dip buying' pasca koreksi awal pekan, jadi penyumbang utama.
Namun begitu, faktor geopolitik jelas tak bisa diabaikan. Ketegangan di Laut Arab, setelah AS menembak jatuh drone Iran di dekat kapal induk mereka, memperkuat daya tarik emas sebagai safe haven. Meski situasinya memanas, jalur diplomasi disebut masih terbuka.
Presiden Donald Trump sendiri menegaskan hal itu. Gedung Putih mengonfirmasi, pembicaraan AS-Iran tetap dijadwalkan berlangsung pada Jumat.
“Dukungan struktural bagi logam mulia masih tetap kuat,”
Begitu bunyi laporan riset dari dua analis OCBC Group Research yang dikutip Dow Jones Newswires.
“Permintaan diversifikasi portofolio terus ditopang oleh risiko geopolitik, meningkatnya beban utang, serta ketidakpastian kebijakan AS,”
tambah mereka.
Di sisi lain, ada dinamika menarik dari Federal Reserve. Ekspektasi pemangkasan suku bunga secara agresif mulai mereda setelah Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed. Tapi jangan salah, pasar masih memprediksi ada dua kali pemotongan suku bunga tahun ini, mungkin di pertengahan dan akhir 2026.
Yang agak merepotkan, sejumlah data penting AS tertunda. Laporan ketenagakerjaan seperti JOLTS terhambat karena penutupan sebagian pemerintahan. Sementara itu, DPR AS rencananya akan mengadakan pemungutan suara atas paket pendanaan yang sudah disetujui Senat.
Pada akhirnya, pergerakan saham hari itu adalah cerminan dari campuran sentimen global yang kompleks. Mulai dari harga komoditas, geopolitik, hingga kebijakan moneter. Investor tampaknya masih melihat emas dan saham terkaitnya sebagai tempat berlindung yang cukup nyaman di tengah ketidakpastian.
Ingat, keputusan investasi ada di tangan Anda sendiri. Lakukan analisis yang matang.
Artikel Terkait
TBS Energi Utama Terbitkan Obligasi Rp175 Miliar dengan Bunga 9 Persen
Wall Street Menguat Didorong Harapan Damai AS-Iran dan Optimisme Sektor AI
Indosat Bagikan Dividen Rp3,58 Triliun di Tengah Ekspansi Strategi AI
Cimory Ekspor Perdana Yogurt ke Vietnam Senilai Rp1,13 Miliar