Angka yang disampaikan Kementerian Perindustrian soal konsumsi baja kita cukup menohok. Pada 2025 nanti, tiap orang di Indonesia diperkirakan hanya mengonsumsi sekitar 60 kilogram baja per tahun. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza tak menampik bahwa angka ini memang sangat rendah.
“Jauh di bawah rata-rata global yaitu 217 kilogram per kapita, tertinggal dari produsen-produsen utama, industri utama yaitu Korea, Tiongkok, dan Jepang,” kata Faisol dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (4/2).
Artinya, masih ada ruang yang sangat lebar untuk tumbuh. Faisol menambahkan, pabrik-pabrik baja kita pun belum beroperasi maksimal. Rata-rata pemanfaatan kapasitasnya cuma 52,7 persen.
“Ini mengindikasikan bahwa potensi ekspansi dan peningkatan yang signifikan masih tersedia ruang yang sangat besar,” sebutnya.
Kalau melihat peta global, produksi baja kasar dunia diprediksi tembus 1,8 miliar ton lebih di 2025. Tiongkok, tentu saja, mendominasi dengan kontribusi lebih dari separuh. India menyusul di belakangnya.
Lalu Indonesia di mana? “Kita di Indonesia menempati peringkat ke-13, di mana produksi pada tahun 2025 baja kasar sebesar 19 juta ton atau meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar 18,6 juta ton,” lanjut Faisol.
Di dalam negeri, ceritanya lain lagi. Permintaan baja kita masih sangat bergantung pada satu sektor: konstruksi. Menurut data asosiasi, sektor ini menyerap lebih dari tiga perempat konsumsi baja nasional.
Menurut Faisol, ketergantungan yang tinggi terhadap pembangunan infrastruktur dan properti menjadikan kedua sektor tersebut sebagai penggerak utama permintaan baja nasional.
Di posisi kedua ada otomotif, dengan porsi 11,6 persen. Sementara peralatan rumah tangga cuma menyumbang 3,3 persen. Meski begitu, secara keseluruhan, konsumsi baja kita tumbuh positif 5,2 persen di 2024 setelah sempat terpuruk.
Di sisi lain, ada kabar baik dari perdagangan. Ekspor baja kita terus naik sejak 2022, sementara impornya justru turun. Volume ekspor melesat dari 9,3 juta ton di 2020 jadi hampir 24 juta ton di 2025.
“Hal tersebut mencerminkan penguatan kapasitas produksi dan daya saing industri baja. Sementara impor yang sempat meningkat pada tahun 2022 17,9 juta ton, menurun di tahun 2025 menjadi 14,8 juta ton,” lanjut Faisol.
Artikel Terkait
SOLA Kantongi Kontrak Rp14,72 Miliar untuk Perkuat Jalan Hauling Batu Bara di Sumsel
Emas Batangan Melonjak 29%, Perhiasan Tersisih di Tengah Gejolak Ekonomi
Indonesia Pacu Reformasi, Bidik Kursi Penuh OECD pada 2027
Prabowo Cabut Akses MLM di Marketplace, Perketat Aturan Main