Menkes Tegaskan Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Waspadai Buah Terkontaminasi

- Rabu, 04 Februari 2026 | 13:36 WIB
Menkes Tegaskan Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Waspadai Buah Terkontaminasi

Di tengah peringatan Hari Kanker Sedunia di South Quarter Dome, Jakarta Selatan, Rabu (4/2), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyisipkan pernyataan penting. Ia meyakinkan publik bahwa virus Nipah belum masuk ke Indonesia. "Belum ada di Indonesia," tegasnya.

Lalu dengan nada yang lebih santai, ia menambahkan, "Ya dijaga aja teman-teman ya."

Menurut Budi, kasus yang terjadi di India patut jadi pelajaran. Penularannya, kata dia, erat kaitannya dengan buah yang sudah terbuka dan terkontaminasi kelelawar.

"Ya itu di India karena itu penularannya kan lewat kelelawar ya. Jadi biasanya kelelawar tuh gigit buah, buahnya tuh kalau enggak dicuci, enggak dimasak, dimakan, (virus) itu menular," jelasnya.

Mengenal Virus Mematikan dari Kelelawar

Lantas, apa sebenarnya virus Nipah ini? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikannya sebagai penyakit zoonosis, alias bisa loncat dari hewan ke manusia. Inang utamanya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.

Virus ini bukan main-main. Pertama kali muncul di Malaysia pada 1998, ia punya tingkat kematian yang mengkhawatirkan: antara 40 sampai 75 persen. Angka itu bisa bervariasi, tergantung pada kemampuan suatu daerah dalam hal pengawasan dan penanganan medis.

Tak hanya kelelawar, virus RNA beruntai tunggal ini juga bisa menginfeksi beragam hewan lain. Babi, kuda, hingga anjing dan kucing bisa menjadi pembawa. Dari sana, potensi penularan ke manusia pun terbuka.

Waspadai Jalur-Jalur Penularannya

Soal cara menyebar, ada beberapa jalur yang mesti diwaspadai. Yang paling langsung adalah dari kelelawar ke manusia. Ini bisa terjadi lewat konsumsi sari kurma mentah atau buah-buahan yang sudah terkontaminasi air liur atau kencing kelelawar yang terinfeksi.

Jalur kedua melibatkan hewan perantara. Ambil contoh babi. Wabah di Malaysia dan Singapura akhir tahun 90-an sebagian besar dipicu kontak dengan babi sakit atau jaringan yang terkontaminasi.

Nah, yang tak kalah mengerikan adalah penularan dari manusia ke manusia. Ini terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita. Lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan yang kurang steril seringkali menjadi tempat penularan semacam ini. Maka, kewaspadaan ekstra mutlak diperlukan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar