Dedi Mulyadi Murka, Pedagang Es Gabus Viral Ketahuan Bohong Soal Kontrakan

- Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45 WIB
Dedi Mulyadi Murka, Pedagang Es Gabus Viral Ketahuan Bohong Soal Kontrakan
Kekecewaan Gubernur Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Kali ini, kekecewaan itu tertuju pada seorang penjual es gabus yang kisahnya sempat viral, Sudrajat. Menurut Dedi, ada sejumlah kebohongan yang sengaja disampaikan pria yang akrab disapa Ajat itu.

Kisah Ajat sendiri berawal dari insiden tak mengenakkan di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia mendapat perlakuan kasar dari aparat saat berjualan. Awalnya, dagangannya dituding berbahaya karena terbuat dari gabus. Tapi hasil lab kemudian membuktikan sebaliknya: es itu aman dikonsumsi.

Nah, gara-gara viral itulah, Dedi Mulyadi tergerak untuk membantu. Dengan niat baik, ia mengundang Sudrajat ke Lembur Pakuan di Subang, Rabu dini hari tanggal 28 Januari 2026. Pertemuan yang seharusnya hangat itu justru berubah jadi penuh kejutan. Dedi merasa dibohongi.

Semuanya berawal dari keluhan Ajat. Ia mengaku bingung membayar uang kontrakan yang mencapai Rp 850 ribu per bulan. Ditambah lagi, katanya, dagangan sepi saat musim hujan sehingga ia kesulitan membiayai sekolah anaknya yang masih SD.

Mendengar itu, Dedi langsung curiga. Beberapa hal tak masuk akal baginya. Pertama, sekolah SD Negeri sekarang sudah gratis. Kedua, angka kontrakan Rp850 ribu di daerah Ajat tinggal terdengar mengada-ada. Dedi pun memastikan kebenarannya.

Dan benar saja. Setelah dikonfirmasi ke ketua RW setempat, terungkap fakta yang bikin Dedi geram. Ternyata, Sudrajat sama sekali tidak mengontrak. Ia justru tinggal di rumah pribadinya sendiri, sebuah rumah pemberian orang tuanya sejak tahun 2007.

Dedi pun tak bisa menahan emosi.

"Babeh bilangnya ngontrak, kok bohong sih. Kenapa sih babeh bohong terus," ujar Dedi sambil menggebrak meja, seperti dilansir TribunLampung.co.id.

Cerita bohongnya ternyata tak berhenti di situ. Ketua RW juga menyebut, rumah itu sempat mendapat bantuan renovasi senilai Rp20 juta karena kondisinya yang tak layak. Padahal, sebelumnya Ajat mengaku pada Dedi bahwa warisan dari orang tuanya cuma Rp200 ribu.

"Babe ngebohong sama saya," ucap Dedi dengan nada kesal. "Dia bilangnya ke saya cuma dikasih warisan Rp200 ribu. Sama saya nggak ada masalah, tapi bapak berdosa sama orang tuanya."

Di hadapan sang gubernur, Sudrajat pun akhirnya meminta maaf. Tapi bagi Dedi, permintaan maaf saja tak cukup. Ia ingin Ajat berubah dan belajar jujur.

"Aduh !!! Ternyata Babeh Ajat penjual es tidak pernah ngontrak, tapi menempati rumah sendiri," tulis Dedi di sebuah unggahan. "Saya tidak bermaksud menguliti dan mempermalukan tapi ada mentalitas yang harus diubah. Awas loh beh, banyak bohong itu banyak sial."

Meski kecewa, Dedi tetap memberikan bantuan. Hanya saja, penyerahannya dilakukan di depan ketua RW, sebagai bentuk transparansi. Sikap tegas tapi tetap adil ini langsung disorot netizen.

Banyak yang memuji langkah sang gubernur.

"Salah satu kunci orang sukses itu adalah JUJUR," tulis seorang netizen.

Yang lain berkomentar, "Babeh mencoba memanfaatkan situasi... Tp babeh salah orang, Pak Dedi sudah paham."

Ada juga yang menyoroti nilai moralnya, "Benerrrrrrr siapapun itu, mau kaya apa miskin, mau tua apa muda, ttep modal utama manusia adalah kejujuran."

Kasus ini mungkin akan segera redup. Tapi pesannya jelas: kejujuran tetap harga mati, bahkan di tengah badai viral sekalipun.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar