Virus ini bukan main-main. Pertama kali muncul di Malaysia pada 1998, ia punya tingkat kematian yang mengkhawatirkan: antara 40 sampai 75 persen. Angka itu bisa bervariasi, tergantung pada kemampuan suatu daerah dalam hal pengawasan dan penanganan medis.
Tak hanya kelelawar, virus RNA beruntai tunggal ini juga bisa menginfeksi beragam hewan lain. Babi, kuda, hingga anjing dan kucing bisa menjadi pembawa. Dari sana, potensi penularan ke manusia pun terbuka.
Waspadai Jalur-Jalur Penularannya
Soal cara menyebar, ada beberapa jalur yang mesti diwaspadai. Yang paling langsung adalah dari kelelawar ke manusia. Ini bisa terjadi lewat konsumsi sari kurma mentah atau buah-buahan yang sudah terkontaminasi air liur atau kencing kelelawar yang terinfeksi.
Jalur kedua melibatkan hewan perantara. Ambil contoh babi. Wabah di Malaysia dan Singapura akhir tahun 90-an sebagian besar dipicu kontak dengan babi sakit atau jaringan yang terkontaminasi.
Nah, yang tak kalah mengerikan adalah penularan dari manusia ke manusia. Ini terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita. Lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan yang kurang steril seringkali menjadi tempat penularan semacam ini. Maka, kewaspadaan ekstra mutlak diperlukan.
Artikel Terkait
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia