Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos

- Rabu, 04 Februari 2026 | 16:42 WIB
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos

Di Kabupaten Ngada, NTT, sebuah tragedi menyayat hati terjadi. Seorang siswa SD berusia 10 tahun, YBS, meninggal dunia karena bunuh diri. Kisah pilu di baliknya ternyata berkait dengan bantuan yang tak kunjung datang. Keluarganya, yang sebenarnya masuk kategori miskin, sama sekali tidak pernah menerima Bantuan Sosial (Bansos).

Lantas, apa yang menghalangi? Masalahnya berakar pada data kependudukan yang tak kunjung jelas. Keluarga korban adalah penduduk pindahan dari Kabupaten Nagekeo. Sayangnya, urusan administrasi mereka belum juga tuntas di tempat tinggal yang baru.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menjelaskan persoalan ini dengan gamblang.

"Data kependudukannya tidak ditopang. Korban pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, tapi administrasinya belum diamankan," ujarnya kepada wartawan, Rabu (4/2).

Ia menambahkan, "Ini hanya persoalan kertas."

Namun begitu, dampak dari 'persoalan kertas' ini sama sekali tidak remeh. Akibat ketidakjelasan data itu, keluarga YBS terlewat dari daftar penerima bansos. Padahal, mereka jelas-jelas membutuhkan.

Gubernur Melki pun mengimbau semua pihak, mulai dari pemda hingga perangkat desa, untuk lebih proaktif. Urusan administrasi warga miskin harus dipastikan beres, jangan sampai ada lagi yang terabaikan.

"Kalau masih ada keluarga miskin, pastikan administrasi kependudukannya jelas," tegasnya.

"Jangan sampai ada lagi yang tidak dapat bantuan hanya karena data. Ini membutuhkan peran semua pihak."

Lemahnya Sistem Pengaman Sosial

Di sisi lain, tragedi ini menyoroti sebuah celah yang lebih dalam. Menurut Gubernur, ini adalah cermin dari sistem pengaman sosial yang masih lemah. Sistem yang seharusnya bisa mendeteksi keluarga rentan sejak dini, ternyata gagal berfungsi.

"Dari kejadian ini, yang perlu diperbaiki adalah bagaimana sistem pengaman sosial ini memastikan kejadian seperti ini bisa dideteksi pada kesempatan pertama, kemudian dibantu," kata Gubernur.

Memang, skema bantuan dari pusat hingga desa sudah ada. Tapi yang sering jadi masalah adalah responsnya. Butuh kecepatan dan mekanisme dana darurat yang lincah, tidak terbelit birokrasi berlapis. Pada akhirnya, sebuah keluarga terperosok karena 'hanya persoalan kertas' sebuah frasa yang kini terasa sangat berat maknanya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar