Di sebuah pondok sederhana di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya. Peristiwa tragis itu terjadi pada Kamis siang lalu. YBS, siswa kelas IV SD itu, ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkeh dekat tempat tinggalnya bersama sang nenek yang sudah sepuh.
Kisah pilu ini akhirnya sampai ke telinga Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Menanggapi kejadian itu, Budi mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini mungkin tersembunyi. Pemerintah, katanya, baru saja mulai melakukan skrining kesehatan mental pada anak-anak. Hasilnya? Sungguh di luar dugaan.
“Kesehatan mental anak memang kita sudah skrining, kita nemu ada 10 juta,” ujar Budi di Jakarta Selatan, Rabu (4/2).
Angka sepuluh juta itu tentu bukan main-main. Menurut Menkes, temuan inilah yang mendesak pemerintah untuk bertindak cepat. Rencananya, mereka akan menyiapkan psikolog klinis di Puskesmas-Puskesmas seluruh Indonesia. Tujuannya jelas: menangani persoalan yang selama ini luput dari perhatian.
“Nah itu yang sekarang saya mau siapkan ada psikolog klinis di masing-masing Puskesmas,” sambungnya. “Supaya penyakit yang sebelumnya enggak pernah terlayani ini, bisa dilayani.”
Namun begitu, langkah ini tidak akan berjalan sendiri. Budi menekankan, Puskesmas harus jalin kerja sama erat dengan sekolah-sekolah. “Karena ini penting sekali kita kerja sama-sama,” tegasnya. Kolaborasi itu diharapkan bisa menciptakan jaring pengaman yang lebih rapat untuk anak-anak yang sedang berjuang.
Artikel Terkait
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai
Kapal Induk dan Ancaman Lama: AS Kembali Mainkan Skrip Usang di Teluk Persia
Pejabat Bea Cukai Pusat Diamankan KPK dalam Operasi Senyap