Menkes Ungkap 10 Juta Anak Alami Gangguan Jiwa, Usai Tragis Bunuh Diri Bocah di NTT

- Rabu, 04 Februari 2026 | 14:54 WIB
Menkes Ungkap 10 Juta Anak Alami Gangguan Jiwa, Usai Tragis Bunuh Diri Bocah di NTT

Di sebuah pondok sederhana di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya. Peristiwa tragis itu terjadi pada Kamis siang lalu. YBS, siswa kelas IV SD itu, ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkeh dekat tempat tinggalnya bersama sang nenek yang sudah sepuh.

Kisah pilu ini akhirnya sampai ke telinga Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Menanggapi kejadian itu, Budi mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini mungkin tersembunyi. Pemerintah, katanya, baru saja mulai melakukan skrining kesehatan mental pada anak-anak. Hasilnya? Sungguh di luar dugaan.

“Kesehatan mental anak memang kita sudah skrining, kita nemu ada 10 juta,” ujar Budi di Jakarta Selatan, Rabu (4/2).

Angka sepuluh juta itu tentu bukan main-main. Menurut Menkes, temuan inilah yang mendesak pemerintah untuk bertindak cepat. Rencananya, mereka akan menyiapkan psikolog klinis di Puskesmas-Puskesmas seluruh Indonesia. Tujuannya jelas: menangani persoalan yang selama ini luput dari perhatian.

“Nah itu yang sekarang saya mau siapkan ada psikolog klinis di masing-masing Puskesmas,” sambungnya. “Supaya penyakit yang sebelumnya enggak pernah terlayani ini, bisa dilayani.”

Namun begitu, langkah ini tidak akan berjalan sendiri. Budi menekankan, Puskesmas harus jalin kerja sama erat dengan sekolah-sekolah. “Karena ini penting sekali kita kerja sama-sama,” tegasnya. Kolaborasi itu diharapkan bisa menciptakan jaring pengaman yang lebih rapat untuk anak-anak yang sedang berjuang.

Lalu, apakah ini berarti tren kesehatan mental anak kita sudah mengkhawatirkan? Budi menjawab dengan hati-hati. Menurutnya, ini lebih soal kita baru mulai membuka mata. “Sebelumnya kan enggak, kita enggak tahu ada masalah kejiwaan di anak. Sekarang udah tahu ada 10 juta. Nah itu yang harus kita perbaiki,” pungkas dia.

Buku dan Pena Jadi Permintaan Terakhir

Sementara di balik statistik, ada cerita hidup YBS yang penuh kepahitan. Gregorius Kodo, seorang saksi, menuturkan kondisi keluarganya yang serba sulit. Itulah sebabnya YBS lebih memilih tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di pondok itu.

Sayangnya, ketika tragedi terjadi, sang nenek sedang tidak di rumah.

Rupanya, korban tumbuh dengan kurangnya kasih sayang orang tua. Ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan. Ayah itu adalah suami ketiga ibunya. Ibu YBS sendiri harus menafkahi lima anak seorang diri, termasuk YBS.

Dan di hari-hari terakhirnya, ada satu permintaan kecil yang tak terpenuhi. YBS sempat meminta uang pada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permohonan sederhana itu akhirnya tak dikabulkan. Sang ibu, dengan berat hati, tak punya uang untuk mewujudkannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar