Konsumsi Baja Indonesia Tertinggal Jauh, Baru 60 Kilogram per Kapita

- Rabu, 04 Februari 2026 | 12:00 WIB
Konsumsi Baja Indonesia Tertinggal Jauh, Baru 60 Kilogram per Kapita

Perkembangan itu punya dampak besar. Neraca perdagangan baja kita berubah dari defisit jadi surplus signifikan, 18,09 juta ton. Nilai ekspornya sendiri mencapai USD 29,23 miliar pada 2024, tanda integrasi yang makin kuat dengan pasar global.

Pasar ekspor utamanya ada di Asia Pasifik, dengan Tiongkok sebagai tujuan terbesar. Disusul Taiwan, India, Australia, dan Vietnam.

“Indonesia menempati posisi sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam,” ungkap Faisol.

Strategi dan Tantangan yang Menanti

Untuk mendongkrak industri ini, Kemenperin mengaku sudah menjalankan sejumlah kebijakan. Mulai dari pengendalian impor, pemberlakuan SNI wajib, hingga penguatan TKDN. Ada juga skema harga gas tertentu dan berbagai insentif fiskal untuk menarik investor.

Tapi jalan masih panjang. Faisol mengakui tantangannya banyak. Yang paling kentara adalah kesenjangan antara konsumsi dan produksi dalam negeri. Celah itu masih banyak ditutupi impor, terutama dari Tiongkok.

Masalah lain, fokus produsen baja kita masih terlalu sempit. “Padahal, sektor-sektor lain seperti otomotif, perkapalan, alat berat, dan rumah tangga juga makin lama makin berkembang dan membutuhkan baja nasional kita sebagai bahan baku,” sebut Faisol.

Tak hanya itu. Banyak fasilitas produksi yang usianya sudah tua, teknologinya ketinggalan, dan kurang ramah lingkungan. Akibatnya, biaya produksi membengkak dan kualitas kadang tak kompetitif.

Menyikapi hal ini, pemerintah punya rencana. “Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian dengan stakeholders menyusun beberapa langkah penyelamatan industri baja nasional,” lanjut Faisol.

Langkahnya beragam. Mulai dari perlindungan dari praktik dagang tak sehat, percepatan adopsi teknologi hijau, penerapan SNI untuk produk baja hilir, sampai mendorong investasi di sektor hulu.

“Dukungan hilirisasi baja nasional untuk dikonsumsi oleh industri perkapalan, otomotif, militer, serta konstruksi. Dan pertumbuhan investasi yang ada menjadi peluang bagi industri baja nasional,” tutup Faisol.


Halaman:

Komentar