Analis Data ITB Siap Bawa Pendekatan Ilmiah ke Timnas Indonesia

- Rabu, 04 Februari 2026 | 07:25 WIB
Analis Data ITB Siap Bawa Pendekatan Ilmiah ke Timnas Indonesia

Alumni ITB 2015 Jadi Asisten Pelatih Timnas, Bukti "Sembah Bakti" Ganesha

Kabar penunjukan Dzikry Lazuardi Z. S. sebagai Asisten Pelatih Timnas Indonesia disambut hangat oleh keluarga besar alumni ITB. Bagi Wakil Sekretaris Jenderal IA-ITB, Ilma Mauldhiya Herwandi, ini lebih dari sekadar promosi kerja. Ini adalah bentuk pengabdian.

“Saya melihat ini bukan sekadar capaian personal,” ujar Ilma.

“Sepak bola adalah ruang yang menyatukan emosi jutaan rakyat. Ini adalah bentuk nyata sembah bakti alumni Ganesha untuk bangsa.”

Menurutnya, langkah ini membuktikan satu hal: ruang kontribusi alumni ITB kian terbuka di berbagai sektor strategis. Tak cuma di industri, teknologi, atau kebijakan publik. Tapi juga di lapangan hijau, di tengah gegap gempita sepak bola nasional.

“Alumni ITB tidak boleh membatasi pengabdian,” katanya.

“Sepak bola nasional ini ruang publik yang sangat berpengaruh. Kehadiran anak bangsa dengan pendekatan profesional dan intelektual di dalamnya sudah jadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.”

Ada yang menarik dari penunjukan Dzikry ini. Untuk pertama kalinya, staf kepelatihan timnas diisi sosok yang latar belakangnya bukan mantan pemain profesional. Dia adalah analis sepak bola murni, yang andalannya terletak pada pendekatan ilmiah dan tumpukan data.

“Ini langkah progresif,” ungkap Ilma. “Sepak bola modern menuntut keputusan yang objektif dan terukur. Apa yang dilakukan Timnas hari ini menunjukkan keseriusan untuk beradaptasi.”

Jejak Dzikry di dunia analisis memang panjang. Kariernya berawal dari Sulut United, lalu merambah ke Persipura Jayapura dan Persis Solo, sebelum akhirnya memegang posisi Kepala Analis di Persija Jakarta. Pengalaman lintas klub itu memberinya pemahaman komprehensif soal dinamika sepak bola tanah air.

Di sisi lain, latar belakang pendidikannya di Teknik Geodesi dan Geomatika ITB justru jadi nilai tambah yang unik. Ilma meyakini, pendekatan analisis spasial dan pemetaan yang dipelajari Dzikry sangat relevan dengan sepak bola masa kini.

“Sepak bola hari ini bicara soal ruang, jarak, efisiensi,” jelasnya. “Apa yang dipelajari di dunia teknik sangat aplikatif untuk menjawab kebutuhan itu.”

Keduanya ternyata sudah saling mengenal sejak lama. Mereka satu angkatan di SMA Negeri 3 Bandung, lalu bertemu lagi sebagai mahasiswa ITB. Dalam kenangan Ilma, Dzikry adalah pribadi yang konsisten dan teliti.

“Dia sosok yang sangat detail dan disiplin dalam berpikir. Karakter itu penting banget untuk peran analis di level tim nasional,” kenang Ilma.

Lebih jauh, kehadiran Dzikry diharapkan bisa menyeimbangkan intuisi lapangan dengan analisis yang dingin. Pendekatan berbasis data itu bisa memperkaya proses pengambilan keputusan teknis, menciptakan harmoni antara seni dan ilmu dalam sepak bola.

Ini bukan kali pertama alumni ITB berkontribusi di sepak bola nasional. Sebelumnya, ada nama Ratu Tisha Destria yang terlibat dalam penguatan tata kelola di tubuh PSSI.

“Tidak semua kontribusi harus datang dari lapangan,” kata Ilma. “Peran strategis di balik layar sama pentingnya untuk membangun sepak bola yang sehat.”

Penunjukan ini juga selaras dengan semangat Gerakan Inovator Nasional 2045 (GIN2) yang digagas Ilma. Gerakan itu mendorong lahirnya inovator lintas disiplin yang berani membawa cara berpikir baru.

“Dzikry contoh konkretnya. Dia menunjukkan bagaimana ilmu, profesionalisme, dan nasionalisme bisa berjalan beriringan,” tegasnya.

Pada akhirnya, langkah Timnas ini dinilai mencerminkan perubahan paradigma. Sepak bola Indonesia mulai meninggalkan keputusan yang hanya mengandalkan firasat, beralih ke fondasi ilmu pengetahuan dan data.

“Sepak bola dunia sudah lama ke arah situ. Data sekarang jadi dasar, bukan pelengkap. Kehadiran analis profesional di Timnas adalah langkah yang tepat waktu,” ujar Ilma.

Ia menutup dengan penegasan. Penunjukan Dzikry adalah simbol bahwa pengabdian pada bangsa punya banyak wajah.

“Tim Nasional bukan cuma soal menang atau kalah, tapi tentang harga diri bangsa. Ketika anak-anak bangsa terbaik bersedia hadir dan mengabdi dengan sepenuh hati, di situlah Garuda berdiri tegak.”

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar