"Harganya belum kompetitif," akunya. Karena itu, pemerintah diminta turun tangan. Pemberian dukungan dan fasilitas tertentu dinilai perlu agar harga beras kita bisa lebih terjangkau. Lagipula, konsumsi ini sifatnya khusus, hanya untuk jamaah haji.
Di sisi lain, peluang pasar sebenarnya terbuka. Sudah ada empat importir di Arab Saudi yang menyatakan minat. Mereka adalah SBTC, Mauladawilah, Tamayiz Asia, dan Muhammad Bawazier Trading. Syaratnya cuma satu: harga dan kualitas harus sesuai standar yang mereka tetapkan.
Menanggapi hal ini, Bulog menyatakan kesiapannya.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan komitmen lembaganya. "Kami memastikan seluruh ekspor beras mengikuti ketentuan perizinan yang berlaku," katanya.
Ia juga menekankan bahwa semua proses akan memenuhi sertifikasi halal dan standar ketat dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA). Mulai dari uji mutu hingga keamanan pangan, semuanya akan dipastikan berjalan sesuai aturan.
Kolaborasi lintas kementerian melibatkan Kementan, Bulog, hingga Kementdag ini memang punya dua tujuan sekaligus. Pertama, tentu saja untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan jamaah kita di tanah rantau. Tapi yang kedua, ini juga jadi momentum bagus untuk mendorong ekspor produk lokal. Sebuah langkah yang, jika berhasil, bisa memberi napas baru bagi perekonomian.
Jadi, selain soal ibadah, musim haji tahun depan juga akan menyisakan cerita tentang semangkuk nasi yang dibawa dari rumah. Semoga sampai dengan selamat.
Artikel Terkait
BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat di Tiga Provinsi Saat Mudik Lebaran 2026
Menkeu Godok Pemangkasan Anggaran Operasional K/L hingga 10%
Kemacetan Parah, Contraflow Diperpanjang hingga KM 47 di Tol Japek
Menkeu Purbaya Bantah Isu Resesi, Sebut Ekonomi Indonesia Masih Kuat