Putra Gaddafi Tewas Ditembak di Zintan, Misteri Pelaku Masih Gelap

- Rabu, 04 Februari 2026 | 06:54 WIB
Putra Gaddafi Tewas Ditembak di Zintan, Misteri Pelaku Masih Gelap

Kabar duka datang dari Libya. Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas. Ia ditembak di kota Zintan, wilayah barat Libya, tempatnya tinggal selama sepuluh tahun belakangan ini.

Konfirmasi awal datang dari penasihat politiknya sendiri, Abdullah Othman. Meski begitu, detail soal siapa pelaku dan bagaimana persisnya kejadiannya masih gelap. Kronologinya belum jelas.

Di sisi lain, seruan untuk mengusut tuntas kasus ini mulai bermunculan. Khaled al-Mishri, mantan ketua Dewan Tinggi Negara di Tripoli, mendesak diadakannya penyelidikan yang cepat dan transparan. Seruan itu ia sampaikan lewat media sosial, Selasa lalu.

Sebenarnya, Saif al-Islam tak pernah menduduki jabatan resmi di pemerintahan. Tapi pengaruhnya besar. Sejak tahun 2000, ia dianggap sebagai orang kedua paling berkuasa setelah ayahnya. Posisi itu bertahan hingga 2011, ketika rezim Gaddafi tumbang dan sang ayah tewas dibunuh.

Nasibnya berliku. Pada 2011, ia ditangkap saat berusaha kabur dari negara itu. Zintan menjadi penjaranya. Baru enam tahun kemudian, ia dibebaskan berkat pengampunan umum.

Wajah Barat di Rezim yang Kaku

Berbeda dengan citra ayahnya, Saif al-Islam adalah sosok yang berpendidikan Barat dan fasih bicara. Dialah wajah progresif dari rezim yang dikenal represif. Perannya cukup sentral dalam mencairkan hubungan Libya dengan negara-negara Barat di awal milenium ini.

Gelar doktornya ia raih dari London School of Economics pada 2008. Disertasinya membahas peran masyarakat sipil dalam reformasi tata kelola global. Tapi dunia akademisnya jauh dari realitas di tanah airnya sendiri.

Di tengah gejolak Arab Spring 2011, ia tampil dengan pernyataan keras. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, nada bicaranya penuh ancaman.

“Kami bertempur di Libya, kami mati di Libya,” katanya kala itu.
Ia memperingatkan akan ada sungai darah. Pemerintah akan bertarung sampai titik penghabisan. “Seluruh Libya akan hancur. Kami akan butuh 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang bagaimana menjalankan negara,” tambahnya.

Namun begitu, bayang-bayang masa lalunya selalu menghantui. Ia dituding terlibat dalam penyiksaan dan kekerasan terhadap para penentang rezim ayahnya. PBB menjatuhkan sanksi, melarangnya bepergian. Bahkan, Mahkamah Pidana Internasional menjadikannya buronan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pengadilan di Tripoli pun menjatuhkan vonis mati untuknya secara in absentia pada 2015. Setelah bebas tahun 2017, Zintan kembali menjadi tempat persembunyiannya. Ia bersembunyi, menghindari berbagai upaya pembunuhan.

Menurut Mustafa Fetouri, seorang analis yang dekat dengan lingkaran dalam Gaddafi, sejak 2016 ia sebenarnya sudah diizinkan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar Libya. Tapi itu semua kini berakhir. Di Zintan, hidupnya dipotong oleh peluru.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar