Kabar duka datang dari Libya. Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas. Ia ditembak di kota Zintan, wilayah barat Libya, tempatnya tinggal selama sepuluh tahun belakangan ini.
Konfirmasi awal datang dari penasihat politiknya sendiri, Abdullah Othman. Meski begitu, detail soal siapa pelaku dan bagaimana persisnya kejadiannya masih gelap. Kronologinya belum jelas.
Di sisi lain, seruan untuk mengusut tuntas kasus ini mulai bermunculan. Khaled al-Mishri, mantan ketua Dewan Tinggi Negara di Tripoli, mendesak diadakannya penyelidikan yang cepat dan transparan. Seruan itu ia sampaikan lewat media sosial, Selasa lalu.
Sebenarnya, Saif al-Islam tak pernah menduduki jabatan resmi di pemerintahan. Tapi pengaruhnya besar. Sejak tahun 2000, ia dianggap sebagai orang kedua paling berkuasa setelah ayahnya. Posisi itu bertahan hingga 2011, ketika rezim Gaddafi tumbang dan sang ayah tewas dibunuh.
Nasibnya berliku. Pada 2011, ia ditangkap saat berusaha kabur dari negara itu. Zintan menjadi penjaranya. Baru enam tahun kemudian, ia dibebaskan berkat pengampunan umum.
Artikel Terkait
Abraham Samad Desak Prabowo Kembalikan 57 Pegawai KPK yang Ditendang Lewat TWK Abal-abal
Kota Anjing di Greenland: Di Balik Gonggongan yang Menjaga Warisan Arktik
Pemulihan Sumatera Terkatung: Saat Birokrasi Mengalahkan Kepedihan
Dari Penolakan ke Dukungan Bersyarat: MUI dan Polemik Diplomasi Indonesia di Forum Perdamaian Trump