Berbeda dengan citra ayahnya, Saif al-Islam adalah sosok yang berpendidikan Barat dan fasih bicara. Dialah wajah progresif dari rezim yang dikenal represif. Perannya cukup sentral dalam mencairkan hubungan Libya dengan negara-negara Barat di awal milenium ini.
Gelar doktornya ia raih dari London School of Economics pada 2008. Disertasinya membahas peran masyarakat sipil dalam reformasi tata kelola global. Tapi dunia akademisnya jauh dari realitas di tanah airnya sendiri.
Di tengah gejolak Arab Spring 2011, ia tampil dengan pernyataan keras. Dalam sebuah wawancara dengan Reuters, nada bicaranya penuh ancaman.
Namun begitu, bayang-bayang masa lalunya selalu menghantui. Ia dituding terlibat dalam penyiksaan dan kekerasan terhadap para penentang rezim ayahnya. PBB menjatuhkan sanksi, melarangnya bepergian. Bahkan, Mahkamah Pidana Internasional menjadikannya buronan atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pengadilan di Tripoli pun menjatuhkan vonis mati untuknya secara in absentia pada 2015. Setelah bebas tahun 2017, Zintan kembali menjadi tempat persembunyiannya. Ia bersembunyi, menghindari berbagai upaya pembunuhan.
Menurut Mustafa Fetouri, seorang analis yang dekat dengan lingkaran dalam Gaddafi, sejak 2016 ia sebenarnya sudah diizinkan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar Libya. Tapi itu semua kini berakhir. Di Zintan, hidupnya dipotong oleh peluru.
Artikel Terkait
Era Arief Hidayat Berakhir, MK Gelar Wisuda Purnabakti untuk Sang Mantan Ketua
Bus PO Haryanto Meledak Jadi Lautan Api di Tol Pemalang, Seluruh Penumpang Selamat
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang