Semarang kembali menatap sebuah perhelatan besar. Kota ini dinilai punya modal kuat untuk jadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional tahun 2026. Bukan cuma soal lokasi yang strategis, tapi juga kesiapan teknisnya yang sudah diperhitungkan matang.
Penilaian ini muncul setelah tim dari Kementerian Agama RI turun langsung melihat kelayakan venue di Semarang beberapa waktu lalu. Mereka mengamati segala sesuatunya dengan saksama.
Rizal Ahmad Rangkuty dari Kemenag memaparkan, fokus tinjauannya meliputi banyak hal. Mulai dari tata ruang, alur pendaftaran, sampai ketersediaan ruang tunggu untuk peserta. "Intinya, kami ingin memastikan semua penopang utama acara berjalan lancar," ujarnya.
“Kami bahas penataan 24 majelis lomba. Kira-kira 13 di antaranya akan dipakai untuk registrasi awal peserta,” jelas Rizal dalam sebuah keterangan tertulis.
Menurutnya, kedatangan kafilah dari berbagai provinsi ini akan diatur bertahap. Misalnya, Aceh, Sumut, dan Riau dijadwalkan tiba jam sepuluh pagi. Menyusul kemudian Sumatera Barat pada pukul sebelas, dan seterusnya.
Karena itulah, ruang tunggu yang memadai mutlak diperlukan. Tujuannya jelas: agar tak ada penumpukan, suasana tetap tertib, dan yang paling penting, nyaman untuk semua tamu.
Soal lokasi, Rizal bilang pilihannya fleksibel. Area terbuka atau tenda besar bisa saja dipakai, asal faktor keamanan dan kenyamanan terjamin. Cuaca juga harus jadi pertimbangan.
“Prinsipnya sederhana. Tempatnya harus representatif dan bikin peserta betah. Lapangan pun bisa jadi opsi kalau tendanya aman dan luas,” tambahnya.
Di sisi lain, Agung Priyono dari Setda Jateng punya pandangan lain. Ia menilai PRPP Semarang punya keunggulan tersendiri, terutama dari sisi strategis.
Lokasinya yang dekat dengan bandara adalah nilai plus besar. Kafilah yang baru turun dari pesawat bisa langsung menuju PRPP untuk registrasi, sebelum akhirnya berangkat ke hotel masing-masing.
“Jaraknya memang sangat dekat. Potensinya besar untuk jadi titik kumpul pertama semua kontingen,” jelas Agung.
Fasilitas pendukung lain juga tak luput dari perhatian. Ruang ber-AC, pencahayaan, area antrean, sampai layanan konsumsi akan terus disempurnakan. Bahkan, unsur arsitektur gedung yang kental nuansa Jawanya disebut-sebut sebagai nilai tambah.
Salah seorang anggota tim dengan semangat menambahkan, “Begitu tirai dan gebyok dibuka, nuansa Jawanya langsung kental. Sangat fotogenik dan pasti mendukung untuk sesi dokumentasi atau foto bersama.”
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyambut baik penilaian ini. Ia optimis kota yang dipimpinnya siap menyambut MTQ Nasional 2026.
“Ini kehormatan sekaligus momentum penting bagi kami,” ujar Agustina.
“Terakhir kali Semarang jadi tuan rumah MTQ Nasional itu tahun 1979, lama sekali. Jadi, tahun 2026 nanti harus jadi penyelenggaraan yang lebih baik, lebih tertib, dan tentu saja lebih berkualitas,” tegasnya.
Agustina berjanji akan mengerahkan seluruh potensi daerah. Kolaborasi dengan pemerintah pusat, provinsi, dan elemen masyarakat akan digalang demi satu tujuan: menyukseskan acara yang dijadwalkan pada September 2026 itu.
Dalam pembahasan, tim juga menyentuh aspek efisiensi. Mengingat gedung-gedung yang ada sudah sering dipakai untuk acara skala nasional, instalasi dan biaya bisa lebih dihemat. Ruang-ruang yang ada dinilai cukup untuk dioptimalkan sesuai kebutuhan MTQ.
Dengan segudang pertimbangan itu, Semarang memang punya peluang kuat. Harapannya, kota ini tak hanya mampu menyelenggarakan MTQ dengan tertib dan nyaman, tapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi setiap peserta yang datang.
Artikel Terkait
Menag: Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Tapi Kitab Spiritual yang Hidup
Bajak Laut Somalia Gunakan Kapal Dhow UEA yang Dibajak sebagai Kapal Induk untuk Serang Kapal Lain
PSG Ungguli Bayern Munich di Babak Pertama Berkat Gol Cepat Dembele
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Surabaya 7 Mei 2026: Subuh Pukul 04.13 WIB, Magrib 17.24 WIB