Pertemuan di Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat pekan lalu, cukup hangat. Abraham Samad, mantan Ketua KPK itu, hadir bersama beberapa tokoh oposisi lain untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, Abraham menyampaikan satu permintaan yang cukup tegas.
Ia meminta Prabowo mempertimbangkan untuk mengembalikan 57 mantan pegawai KPK. Mereka, termasuk penyidik kondang Novel Baswedan, itu disingkirkan lewat sebuah tes yang kontroversial: Tes Wawasan Kebangsaan atau TWK.
"Yang terakhir saya bilang, harus dipikirkan, mengembalikan 57 orang yang ditendang, yang dikeluarkan oleh Firli dari KPK dengan alasan tes wawasan kebangsaan abal-abal," ujar Abraham kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Istilah "abal-abal" itulah yang langsung menyita perhatian Prabowo.
Menurut Abraham, presiden langsung merespons. Prabowo bertanya kenapa ia memakai istilah begitu untuk menyebut TWK.
"Langsung dia bilang, 'kenapa Pak Abraham memakai istilah abal-abal?'. Karena saya bilang Tes Wawasan Kebangsaan itu bukan bertujuan untuk menguji seseorang tingkat wawasan kebangsaannya," papar Abraham.
Ia pun menegaskan pendiriannya.
"Tapi, hanya bertujuan menyingkirkan 57 orang pegawai KPK yang integritasnya kuat yang selama ini melawan Firli," imbuhnya. Tes itu, dalam pandangannya, digelar di era pimpinan Firli Bahuri dan sama sekali tidak murni.
Soal 57 eks pegawai KPK
Pemberhentian massal 57 orang ini memang bukan cerita baru, namun luka yang ditinggalkannya masih terasa. Awalnya, ini bermula dari polemik TWK tahun 2021. Tes itu digelar sebagai bagian dari proses alih status pegawai KPK menjadi ASN.
Hasilnya? Kelima puluh tujuh pegawai itu dinyatakan tidak lulus. Mereka akhirnya resmi diberhentikan dengan status "hormat" pada 30 September 2021.
Namun begitu, keputusan itu menuai badai kritik. Banyak yang menilai ini cuma kedok, sebuah upaya sistematis untuk menyingkirkan penyidik dan analis yang dianggap terlalu getol menangani kasus-kasus besar. Pahitnya, mereka pergi tanpa uang pesangon ataupun dana pensiun. Nasib yang ironis untuk orang-orang yang dulu justru diandalkan memberantas ketidakadilan.
Artikel Terkait
BEM SI Tinjau Langsung Gudang Bulog, Stok Beras Nasional Capai Rekor 5,2 Juta Ton
Presiden Prabowo Terima Laporan Reformasi Polri, Instruksikan Perubahan Bertahap hingga 2029
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Zero Tolerance terhadap Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Agama
118 BEM Nusantara Dialog Langsung dengan Mentan, Bahas Swasembada Pangan hingga Koperasi Desa