Penangkapan Maduro: Pasar Global Cemas Menanti Dampak Minyak dan Emas

- Senin, 05 Januari 2026 | 07:15 WIB
Penangkapan Maduro: Pasar Global Cemas Menanti Dampak Minyak dan Emas

Pasar keuangan global bersiap menghadapi gejolak baru. Pemicunya? Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat. Langkah drastis Washington ini bukan cuma soal politik, tapi berpotensi mengacak-acak harga minyak dan mengusik sentimen investor di seluruh dunia.

Menurut sejumlah saksi, Maduro ditahan di sebuah pusat penahanan di New York pada hari Minggu. Dia menunggu proses dakwaan atas tuduhan dari AS, yang kerap menyebut rezimnya sebagai "negara narkoba" dan menudingnya memanipulasi pemilu. Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan negaranya akan mengambil alih kendali Venezuela, setidaknya untuk sementara.

"Kami akan menjalankan negara tersebut sampai transisi yang aman dan bijaksana bisa dilakukan," ujar Trump dalam konferensi pers Sabtu lalu.

Ini intervensi langsung pertama AS di Amerika Latin sejak mereka invasi Panama tahun 1989. Besarnya dampaknya masih jadi teka-teki. Marchel Alexandrovich, ekonom di Saltmarsh Economics, bilang peristiwa ini cuma pengingat saja. "Ketegangan geopolitik terus mendominasi pemberitaan dan menggerakkan pasar," katanya.

Di sisi lain, reaksi pasar saat kejadian memang tertunda karena akhir pekan. Tapi begitu perdagangan dibuka, kekhawatiran langsung terasa. Sentimen sempat kuat di hari pertama perdagangan tahun ini, dengan indeks Wall Street menguat dan dolar meroket. Tapi itu semua terjadi sebelum berita penangkapan pecah.

Kalau pasar sedang buka saat kejadian, gambarnya pasti lain. Mohamed El-Erian, mantan CEO PIMCO, mencoba membayangkan skenarionya. Menurut dia, reaksi ekonomi dan keuangan atas tumbangnya Maduro masih belum jelas.

"Mungkin kita akan melihat pemisahan yang langsung antara harga minyak dan emas," ujarnya. "Harga minyak bisa turun karena prospek ekspor Venezuela membuka keran. Tapi emas? Bisa naik karena investor buru aset aman di tengah ketidakpastian yang melonjak."

Emas sendiri tahun lalu sudah cetak rekor, catat kenaikan terbesar dalam 46 tahun terakhir. Didorong pemangkasan suku bunga AS dan berbagai titik panas geopolitik lainnya.

Namun begitu, ada juga potensi jangka panjang yang lebih cerah. Beberapa jam usai penangkapan, Trump menyebut perusahaan minyak AS siap gelontorkan miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak mentah Venezuela. Jika berhasil, pasokan global bisa melimpah dan harga energi tertekan ini bisa jadi angin segar untuk pertumbuhan ekonomi dunia.

Harga minyak sendiri sempat sentuh level di atas 62 dolar AS per barel pada Desember lalu. Waktu itu AS memblokir kapal tanker yang kena sanksi agar tak masuk atau keluar Venezuela. Tapi belakangan harganya relatif stabil, berkisar di angka 60-61 dolar AS.

Langkah AS ini juga kembali menyoroti borok lama Venezuela: krisis utang. Mereka punya salah satu kasus gagal bayar utang pemerintah terbesar di dunia, dan sampai sekarang belum ada penyelesaiannya. Penangkapan Maduro mungkin membuka bab baru, tapi sekaligus menambah daftar ketidakpastian yang harus dicermati investor.

Wall Street dan pasar global baru saja menutup 2025 di level tertinggi sepanjang masa, dengan kenaikan dua digit. Pencapaian itu diraih di tahun yang sebenarnya penuh gejolak: perang tarif, kebijakan bank sentral yang berubah-ubah, dan tentu saja, ketegangan geopolitik. Sekarang, satu ketegangan baru telah muncul. Tinggal tunggu bagaimana pasar menelan pil ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar