Pasar keuangan global bersiap menghadapi gejolak baru. Pemicunya? Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat. Langkah drastis Washington ini bukan cuma soal politik, tapi berpotensi mengacak-acak harga minyak dan mengusik sentimen investor di seluruh dunia.
Menurut sejumlah saksi, Maduro ditahan di sebuah pusat penahanan di New York pada hari Minggu. Dia menunggu proses dakwaan atas tuduhan dari AS, yang kerap menyebut rezimnya sebagai "negara narkoba" dan menudingnya memanipulasi pemilu. Presiden AS Donald Trump dengan tegas menyatakan negaranya akan mengambil alih kendali Venezuela, setidaknya untuk sementara.
"Kami akan menjalankan negara tersebut sampai transisi yang aman dan bijaksana bisa dilakukan," ujar Trump dalam konferensi pers Sabtu lalu.
Ini intervensi langsung pertama AS di Amerika Latin sejak mereka invasi Panama tahun 1989. Besarnya dampaknya masih jadi teka-teki. Marchel Alexandrovich, ekonom di Saltmarsh Economics, bilang peristiwa ini cuma pengingat saja. "Ketegangan geopolitik terus mendominasi pemberitaan dan menggerakkan pasar," katanya.
Di sisi lain, reaksi pasar saat kejadian memang tertunda karena akhir pekan. Tapi begitu perdagangan dibuka, kekhawatiran langsung terasa. Sentimen sempat kuat di hari pertama perdagangan tahun ini, dengan indeks Wall Street menguat dan dolar meroket. Tapi itu semua terjadi sebelum berita penangkapan pecah.
Kalau pasar sedang buka saat kejadian, gambarnya pasti lain. Mohamed El-Erian, mantan CEO PIMCO, mencoba membayangkan skenarionya. Menurut dia, reaksi ekonomi dan keuangan atas tumbangnya Maduro masih belum jelas.
Artikel Terkait
Prabowo dan Trump Siap Teken Kesepakatan Dagang Akhir Januari
Libur Panjang Nataru, Konsumsi Bensin Hanya Naik Tipis: Tanda Pergeseran Pola Mobilitas?
MEJA Siapkan Rp 1,6 Triliun untuk Rebut 45% Saham Tambang Batu Bara di Banyuasin
Minyak Melimpah, Utang Menumpuk: Venezuela Terjepit di Tengah Sanksi dan Perebutan Citgo