Suasana di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa lalu, tampak sesak bukan main. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, langsung menyoroti kondisi itu dalam kunjungan kerjanya. Menurutnya, penumpukan kapal di sana sudah pada tahap yang mengkhawatirkan, bahkan membahayakan keselamatan.
Bayangkan saja, pelabuhan yang seharusnya cuma muat 500 kapal, kini dipaksa menampung lebih dari 1.500 unit. Akibatnya, riuh rendah. Kapal-kapal yang baru pulang melaut terpaksa antre berjam-jam bisa sampai delapan jam hanya untuk bisa bongkar ikan hasil tangkapan. Sungguh tidak efisien.
"Ini jelas tidak efisien dan lebih dari itu sangat berbahaya," ujar Titiek di tengah kerumunan kapal.
Dia melanjutkan dengan nada prihatin, "Kapal-kapal terlalu rapat. Amit-amit kalau terjadi kebarakan, bisa habis semuanya."
Masalahnya nggak cuma kelebihan kapal yang masih operasional. Titiek juga menyoroti banyaknya kapal rusak dan mangkrak yang dibiarkan begitu saja, memakan ruang berharga. Bahkan ada bangkai kapal bekas terbakar yang cuma tinggal puing-puing besi berkarat. Keadaan ini, tegasnya, paling menyusahkan para nelayan yang cari nafkah tiap hari.
"Kapal-kapal yang sudah tidak layak jalan, rusak, mangkrak, harus segera dikeluarkan," tegasnya.
"Ini mengganggu operasional pelabuhan dan yang paling merasakan dampaknya adalah para nelayan."
Artikel Terkait
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG