Titiek Soeharto Soroti Kemacetan Kapal di Muara Angke, Trenggono Janji Tindak Lanjut

- Rabu, 04 Februari 2026 | 03:48 WIB
Titiek Soeharto Soroti Kemacetan Kapal di Muara Angke, Trenggono Janji Tindak Lanjut

Suasana di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa lalu, tampak sesak bukan main. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, langsung menyoroti kondisi itu dalam kunjungan kerjanya. Menurutnya, penumpukan kapal di sana sudah pada tahap yang mengkhawatirkan, bahkan membahayakan keselamatan.

Bayangkan saja, pelabuhan yang seharusnya cuma muat 500 kapal, kini dipaksa menampung lebih dari 1.500 unit. Akibatnya, riuh rendah. Kapal-kapal yang baru pulang melaut terpaksa antre berjam-jam bisa sampai delapan jam hanya untuk bisa bongkar ikan hasil tangkapan. Sungguh tidak efisien.

"Ini jelas tidak efisien dan lebih dari itu sangat berbahaya," ujar Titiek di tengah kerumunan kapal.

Dia melanjutkan dengan nada prihatin, "Kapal-kapal terlalu rapat. Amit-amit kalau terjadi kebarakan, bisa habis semuanya."

Masalahnya nggak cuma kelebihan kapal yang masih operasional. Titiek juga menyoroti banyaknya kapal rusak dan mangkrak yang dibiarkan begitu saja, memakan ruang berharga. Bahkan ada bangkai kapal bekas terbakar yang cuma tinggal puing-puing besi berkarat. Keadaan ini, tegasnya, paling menyusahkan para nelayan yang cari nafkah tiap hari.

"Kapal-kapal yang sudah tidak layak jalan, rusak, mangkrak, harus segera dikeluarkan," tegasnya.

"Ini mengganggu operasional pelabuhan dan yang paling merasakan dampaknya adalah para nelayan."

Di sisi lain, ada keluhan lain yang mengemuka dari para pemilik kapal dan nakhoda. Proses perizinan berlayar disebut masih lamban, membuat kapal tertahan lama di dermaga. Titiek mendesak perizinan ini harus dipercepat agar siklus melaut bisa kembali lancar.

Menanggapi sorotan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono langsung angkat bicara. Pihaknya akan segera koordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta, khususnya Dinas Perikanan, untuk mengurai benang kusut di Muara Angke.

"Kamis besok seluruh pemilik kapal akan kami kumpulkan di sini," kata Trenggono.

"Ini menjadi perhatian serius karena menyangkut produktivitas dan ribuan tenaga kerja yang bergantung pada pelabuhan ini."

Menurut dia, akar masalahnya bukan cuma soal kapasitas yang terbatas. Manajemen pengelolaan pelabuhan dinilainya perlu dibenahi total. Kapal-kapal rusak tidak boleh lagi memadati area bongkar muat yang semestinya untuk aktivitas produktif.

Soal izin, Trenggono sudah memberi instruksi ke jajarannya. Prosesnya harus dipangkas. "Kalau semua persyaratan dipenuhi, paling lama satu minggu harus sudah selesai," tegasnya. "Tidak boleh berlarut-larut."

Ke depan, pembahasan yang lebih serius akan dilakukan. Revitalisasi Pelabuhan Muara Angke rencananya akan digodok bersama Pemprov DKI. Wajar saja, mengingat betapa vitalnya peran pelabuhan tua ini bagi produktivitas perikanan dan ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya di sana.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar