Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%

- Selasa, 03 Februari 2026 | 21:06 WIB
Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%

Target investasi untuk tahun depan digenjot cukup tinggi. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut angka Rp 2.175,2 triliun harus tercapai di 2026. Target ambisius ini, menurutnya, punya peran krusial: mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional hingga ke level 6 persen.

Latar belakangnya cukup kuat. Sepanjang 2025, realisasi investasi ternyata melampaui target, menyentuh Rp 1.931,2 triliun. Artinya, target tahun depan naik sekitar 14 persen dari capaian tahun lalu. Sebuah lompatan yang tidak main-main.

“Target di 2026 ini memang meningkat cukup lumayan,” ujar Rosan dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR, Selasa (3/2).

“Kalau tahun lalu targetnya Rp 1.905,6 triliun, tahun depan kita harapkan bisa naik jadi Rp 2.175,2 triliun.”

Harapannya jelas. Dengan suntikan dana segar itu, perekonomian bisa terdorong lebih kencang. Saat ini pertumbuhan masih berkutat di kisaran 5 persan, dan target dalam APBN 2026 ingin membawanya melampaui angka 6 persen.

“Diharapkan dengan investasi yang masuk, kita bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen,” jelasnya lagi.

“Inilah kontribusi yang diharapkan dari kementerian kami untuk pencapaian pertumbuhan yang baik.”

Nah, soal cara mencapainya, Rosan menyoroti perbaikan sistem perizinan. Program pemeliharaan sistem OSS (Online Single Submission) jadi prioritas, terutama setelah diperkuat oleh PP 28 Tahun 2025. Sistem yang dulu kerap dikeluhkan lambat ini sedang ditingkatkan kapasitasnya.

“Kita sekarang mengintegrasikan secara "full" perizinan dari 28 kementerian,” tuturnya.

“Makanya kalau kemarin-kemarin sistem terasa lambat. Begitu integrasi ini berjalan baik, kredibilitas dan kepastian perizinan pasti jauh lebih meningkat.”

Di sisi lain, fokus juga semakin mengerucut pada proyek hilirisasi. Tahun lalu, kontribusi sektor ini mencapai Rp 584,13 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total realisasi. Memang, sebagian besar masih didominasi sektor mineral. Tapi ada angin segar.

Rosan melihat geliat investasi hilirisasi di sektor non-mineral mulai menunjukkan hasil. Perkebunan dan kehutanan menyumbang sekitar Rp 144,5 triliun, disusul migas Rp 60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp 6,4 triliun.

Menurutnya, justru proyek di sektor non-mineral ini punya dampak sosial yang lebih langsung: menyerap lebih banyak tenaga kerja. Dia memberi contoh konkret proyek hilirisasi kelapa.

“Investasinya dibanding mineral memang jauh lebih kecil, hanya sekitar USD 100 juta,” ungkap Rosan.

“Tapi dampaknya besar. Penyerapan tenaga kerjanya bisa mencapai 10 ribu orang. Proyeknya sudah mulai konstruksi dan ditargetkan selesai akhir 2026.”

Jadi, strateginya jelas: perbaiki ekosistem perizinan, lalu pacu investasi terutama di hilirisasi yang padat karya. Semua demi satu tujuan: mendorong ekonomi Indonesia berlari lebih kencang tahun depan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar